"hhhhhuuffffftt" hela nafasku dengan panjang, seakan mencerminkan betapa aku sudah tidak tahan lagi menahan rasa rindu yang mendalam ini.
Dengan jarum infus yang masih menusuk dilengan kananku dan selimut tebal yang menutupi tubuh rentaku. Wajah yang dulu selalu menemani hari - hari luguku itu, tak terasa sudah menginjakan dirinya di tahun ke 12 setelah ia berpisah dengan bundaku dan menghilang hingga aku tidak pernah melihatnya lagi. Kemana dia? bagaimana kabarnya? aku sungguh merindukannya.
Aku rasa, ketika suatu saat nanti ia datang. Dialah pelengkap kesempurnaanku. Tapi sampai kapan aku menunggu dan sampai kapan aku harus selalu dipisahkan. Disadari atau tidak, aku memang merasa kalau aku dipisahkan dengan dia. Yang notabennya sebagai papahku. Tak sengaja air mata jatuh mempasahi pipi lalu berlabuh diujung bibir yang mulai mengering karena efek dari penyakitku ini.
***
"ono opo ndo? kok kamu nangis?" tanya bundaku dengan logat yang bercampuran. Bunda memang asli Jawa tapi lama di Jakarta.
"aku kangen papah bun" sambil melihat suasana luar di balik jendela dari kamar inapku.
"wis toh ndo, ndak usah ngomongin papahmu" pinta bundaku yang mungkin masih menyimpan rasa sakit hati dengan perlakuannya selama masa pernikahannya.
"tapi bun. Mau sejahat apapun papah, dia tetep papahku. Ini sudah 12 tahun aku ga pernah ketemu dia. Bagi aku hanya ada 2 laki - laki yang sayang sama aku dengan tulus. Cuma papah sama Rizky" jelasku tanpa memandang wajah bunda. Aku takut kata - kataku bisa menyakiti perasaannya. Tapi pernahkah bunda berfikir bagaimana perasaanku, yang bertahun - tahun tidak pernah dipertemukan dengan papahku sendiri. Bahkan nomer telfon papahpun, aku tidak punya. Yah, bunda adalah salah satu penyebab dari tidak pernahnya aku bertemu dengan papahku. Berkali - kali papah meminta kepada bunda untuk mempertemukan aku dengan dirinya. Tapi bunda tidak pernah mengizinkan. Entahlah, maksudnya apa...Tapi aku yakin, dibalik caranya itu ada alasan baik yang aku tidak tahu.
"kemarin, bude Bud nelfon bunda. Dia cerita katanya papah kangen banget sama kamu, dia mau ketemu kamu", bude Bud adalah kakak papahku, yang dulu sangat dekat dengan bunda. Selagi bunda masih bersama papah dan aku.
"plis bun, ijinin aku ketemu papah" mataku menatap nanar wajah bunda yang terlihat semakin menua.
***
3 minggu aku dirawat dirumah sakit karena penyakit aneh yang menyerang tubuhku. Bersyukur, aku diizinkan dokter untuk istirahat dirumah. Selama dirumah, Rizky lah yang berperan penting dalam mengurus aku, setelah bunda terpaksa harus balik ke Jakarta. Surabaya - Jakarta bukanlah Jakarta - Depok, yang hanya 1 jam saja bisa sampai. Jadi aku harus merelakan bunda balik ke Jakarta untuk meneruskan pekerjaannya yang banyak tertunda karena mengurus aku di rumah sakit. Tanpa merasa keberatan Rizky selalu ada untuk aku. Rizky adalah laki - laki terkasihku yang berhasil aku temukan dari ribuan laki - laki yang ada didunia.
***
Setelah aku benar - benar sehat dan sudah bisa meneruskan aktifitas seperti biasanya, Rizky ngajak aku untuk makan sepulang dari kampus nanti.
Sebelum aku pergi makan dengan Rizky, aku sempetin diri untuk pulang ke kosan dan mandi sebentar sekedar menyegarkan badan. Ketika aku sedang mandi, Rizky datang dan menunggu aku duduk di teras ditemani Minci (kucing kesayanganku).
Mandipun selesai dan aku segera rapih - rapih dikamar. Ketika aku sudah siap dan menuju keluar.
Tiba - tiba.
aku melihat sosok ketika 12 tahun yang lalu selalu menemaniku makan baso, menyuruhku minum susu, menjemputku ke sekolah, menjagaku dari ketakutan, membelaku ketika aku salah, menemani tidurku sambil mengatakan 'cantiknya kamu ndo', mengajakku jalan - jalan kemanapun aku mau, yang selalu.......banyak sekali kenangan itu
PAPAH. Kini ada dihadapanku.
Air matapun tak kuasa menahan kebahagiaan itu. Kakipun tak kuasa menopang tubuhku. Tanganpun tak kuasa untuk memeluknya.
AKU SUNGGUH KANGEN PAPAH