Dia menghadapkan kepalanya kearah bantal. Dimalam yang begitu sepi, dia menyesali keputusannya. Air matanya terus menetes membasahi pipi cubby nya lalu merembes ke bantal tepat dihadapannya. Bantal yang menghalangi mukanya dari penglihatan orang. Maklum saja, saat itu pukul 8 malam. Orang - orang disana belum memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya pada jam - jam tersebut. Sekali lagi, ini baru jam 8. Ada kemungkinan bagi mereka memergoki dia yang sedang nangis dibalik bantal.
Air matanya masih menetes deras, senggukan dadanya masih menyesakkan saluran pernapasannya. Malam itu, terasa sangat menyakitkan. Kalau saja dia tidak membuat keputusan yang salah pasti tidak akan terjadi seperti ini. Keputusan untuk berlibur ke rumah kaka bundanya dan meninggalkan rumah beserta sang bunda. Bunda yang selalu ada dihari - harinya, yang selalu menina bobokannya, yang selalu memasakan makanan kesukaannya, yang selalu bercanda dengannya, yang selalu dimintai uang jajannya.
Air matanya makin deras menetes. Mengingat ini masih hari ke 3 dari perginya meninggalkan sang bunda. Sedangkan, masih ada 4 hari lagi yang harus dia jalani di rumah kaka bundanya tanpa sang bunda. Yah!! tanpa bundanya.
Rasa rindunya tidak bisa dia ungkapkan pada siapapun. Apabila dia menelpon sang bunda, kecemasanlah yang akan terjadi pada bundanya. Apabila dia menelpon sang ayah, omelanlah yang akan dia terima. Karena, dari awalpun sang ayah tidak mengizinkan dia untuk pergi jauh dari bundanya. Apabila dia mengatakan pada kaka bundanya, ketawaanlah yang akan dia terima. rasa rindunya tidak bisa dia ungkapkan pada siapapun.
Segera dia menyeka air matanya dan lari ke kamar mandi. Membasuhkan mukanya dan jongkok disudut kamar mandi untuk merenunginya. Biarlah kamar mandi yang mengerti atas kerinduannya.
kepadanya 'bila'


Posting Komentar