 |
| kamulah pendamping hidupku |
Saya
hanya butuh penyemangat. Saya hanya butuh seseorang yang telinganya siap panas
ketika saya bercerita. Saya hanya butuh seseorang yang mulutnya ngomel ketika
saya lupa untuk sholat. Saya hanya butuh seseorang yang menyuruh saya
menundukkan kepala disetiap akhir sholat saya. Saya hanya butuh seseorang yang
tangannya siap mengelus sayang kepala saya. Saya hanya butuh seseorang yang
kakinya ikhlas melangkah ke rumah Tuhan untuk menyelipkan nama saya dalam
doanya. Saya hanya butuh seseorang yang mampu meredam emosi saya. Saya hanya
butuh seseorang yang matanya berbicara ketika menatap mata saya. Seakan dia
berkata “betapa beruntungnya dia memiliki saya”.
 |
| kita hanya sebatas sahabat dan mencoba untuk tidak lebih |
Asli.
Dari jamannya ingusan, main ayun – ayunan di TK, keluar cuma mengenakan kaos
kutang bolong, beli ciki dengan uang 100 rupiah, kita sudah dipertemukan.
Lihatlah sekarang, kita yang telah tumbuh dewasa. Kita yang sudah mengenal arti
kata cinta. Entah takdir atau bukan, kita selalu mendapatkan sekolah yang sama.
Mengenakan seragam dengan bet yang sama. Jajan dikantin yang sama. Upacara
dilapangan yang sama. Bahkan teman – teman kitapun sama. Sedekat itukah kita?
Apa kamu memendam rasa? Atau aku yang memiliki rasa? Entahlah.
Bahkan
rumah kitapun tidak berjauhan. Rumah kita hanya dibedakan oleh beberapa rumah
saja. Melewati sekitar 4 atau 5 rumah, aku sudah bisa sampai didepan rumahmu.
Ah kamu memang teman sepanjang masaku.
Bahkan
ketika kuliahpun, kita sama – sama menumpang dikota orang yang sama. Sejauh ini
kita masih diizinkan untuk terus berteman. Hingga aku yakin, Tuhan telah
menakdirkan kita menjadi teman sepanjang masa, Tuhan mengirimkan kepadaku
pelindung ketika tangan orang tuaku tak mampu untuk mendekap, Tuhan telah
merencanakan semuanya. Hingga aku yakin, kamulah salah satu tempatku berkeluh
kesah ketika peliknya dunia perkulihan yang begitu memporakporandakan otakku.
Ketika peliknya kisah percintaanku yang tak mampu membuat cerita dengan ending
yang bahagia. Ketika peliknya arti kata persahabatan yang ternyata bisa jadi
permusuhan. Dunia diluar memang kejam. Betapa aku tak mampu membayangkan ketika
sosokmu tak ada dalam hidupku. Aku yang harus bertahan mati – matian untuk
hidup dikota orang. Untung aku masih punya sosok kamu. Dan ternyata sosok
kekasihku tak seasyik kamu.
Kamu
yang faktanya pria yang memiliki wajah tampan. Yang berjuta – juta wanita
diluar sana berebutan untuk bisa mengambil hati kamu. Tapi tak berlaku untuk
aku. Sedikit saja aku minta kamu untuk menemaniku, walaupun hanya sekedar
makan. Secepatnya juga kamu selalu menolong aku. Yah kamu memang selalu ada
untukku ketika kita masih dikota itu. Dan akan terus sampai saat ini. Kita
sudah ditakdirkan menjadi teman sepanjang masa. Aku yakin rasa iri para wanita
penggemarmu sudah mencapai titik dimana mereka ingin melahapku habis – habisan
tak bersisa, yang seenaknya saja bisa memilikimu sebagai sahabat baikku dengan
mudahnya.
Walau
kamu asyik dengan pacarmu dan aku asyik dengan pacarku. Tak jarang ada waktu
yang direncanakan Tuhan untuk kita saling ada. Saling bertukar cerita. Ah
pertemanan ini terlalu sempurna jika harus dihancurkan dengan kata cinta.
Biarlah kita memendam rasa yang kita punya. 21 tahun kita bersama. Apa iya
tidak ada rasa cinta? Entahlah. Aku terlalu takut untuk menodai pertemanan ini.
Sampai kapanpun aku akan selalu sayang dengan temanku yang satu itu. Begitupun
dengannya. Aku yakin itu. Tidak akan pernah kita menjadi sepasang kekasih.
Mungkin bisa terjadi ketika lelaki didunia ini sudah tidak ada lagi.
Biarlah
kita menikmati indahnya kisah yang kita punya ini. Yang orang lain mungkin bisa
iri. Belajarlah untuk selalu memendam rasa. Dan kita akan menjadi teman
sepanjang masa.
Kepadanya
yang mungkin saja tidak akan pernah membaca postingan ini. Teman masa kecil
saya yang dulu dikenal sebagai cucuknya sesepuh yang ada di komplek tempat saya
tinggal. Memang terlihat tidak penting. Tapi akan menjadi sangat penting ketika
moment sore itu terjadi begitu saja.
Kami
memang tidak mengenal baik. Bahkan ngobrolpun kami tidak pernah. Yah, selama
ini saya hanya mengenal dia teman masa kecil saya yang fotonya secara tidak
sengaja tersimpan manis di album masa kecil yang dibuat ibu saya dengan apik.
Kami foto berdua, duduk bersampingan. Terlihat lucu. Saya yang hanya mengenakan
pakaian dalam, begitupun dengannya. Ah bahkan saya hanya mengenal dia sebatas
itu saja.
Sore
itu. Takbir di masjidpun sudah berkumandang. Yah, besok memang hari dimana para
hewan kurban menyerahkan nyawanya untuk menghadap sang illahi menjadi penguni
surga. Seperti biasa dia yang selalu menjumpai neneknya dihari – hari besar.
Neneknya yang faktanya menjadi sesepuh di komplek saya tinggal. Siapa yang
tidak kenal dia? Cucuknya sang sesepuh yang terkenal dengan kemurahan hatinya.
 |
| ketika kecil masih belum mengenal cinta |
Saya
memegang sapu. Dan menggerakkan tangan untuk membersihkan sekitar rumah petak
tempat saya tinggal. Saat itu saya baru saja mandi dan rambutpun masih basah.
Tanpa penutup kepala yang biasa saya pakai, masih saja saya berkutat dengan
sapu dan pengki didepan rumah. Bisa saja setiap orang yang melewati melihat
bagaimana bentuk rambut saya. tapi saya tidak menghiraukannya.
Dan
benar. Dia dengan mobilnya itu melintas tanpa permisi saat saya masih asik
dengan sapu dan pengki. Saat saya tidak menggunakan penutup kepala yang bisa
saja dia melihat betapa berantakannya rambut saya saat itu. Dia yang berada di
depan setir mobil dan tetap fokus dengan jalanan gang sempit yang harus
dilewatinya. Tanpa melihat saya yang berada tepat disamping kaca mobilnya yang
terbuka lebar itu. Wah, betapa tampannya dia sekarang.