need

0 komentar

kamulah pendamping hidupku

Saya hanya butuh penyemangat. Saya hanya butuh seseorang yang telinganya siap panas ketika saya bercerita. Saya hanya butuh seseorang yang mulutnya ngomel ketika saya lupa untuk sholat. Saya hanya butuh seseorang yang menyuruh saya menundukkan kepala disetiap akhir sholat saya. Saya hanya butuh seseorang yang tangannya siap mengelus sayang kepala saya. Saya hanya butuh seseorang yang kakinya ikhlas melangkah ke rumah Tuhan untuk menyelipkan nama saya dalam doanya. Saya hanya butuh seseorang yang mampu meredam emosi saya. Saya hanya butuh seseorang yang matanya berbicara ketika menatap mata saya. Seakan dia berkata “betapa beruntungnya dia memiliki saya”.

teman sepanjang masa

0 komentar

kita hanya sebatas sahabat dan mencoba untuk tidak lebih


Asli. Dari jamannya ingusan, main ayun – ayunan di TK, keluar cuma mengenakan kaos kutang bolong, beli ciki dengan uang 100 rupiah, kita sudah dipertemukan. Lihatlah sekarang, kita yang telah tumbuh dewasa. Kita yang sudah mengenal arti kata cinta. Entah takdir atau bukan, kita selalu mendapatkan sekolah yang sama. Mengenakan seragam dengan bet yang sama. Jajan dikantin yang sama. Upacara dilapangan yang sama. Bahkan teman – teman kitapun sama. Sedekat itukah kita? Apa kamu memendam rasa? Atau aku yang memiliki rasa? Entahlah.

Bahkan rumah kitapun tidak berjauhan. Rumah kita hanya dibedakan oleh beberapa rumah saja. Melewati sekitar 4 atau 5 rumah, aku sudah bisa sampai didepan rumahmu. Ah kamu memang teman sepanjang masaku.

Bahkan ketika kuliahpun, kita sama – sama menumpang dikota orang yang sama. Sejauh ini kita masih diizinkan untuk terus berteman. Hingga aku yakin, Tuhan telah menakdirkan kita menjadi teman sepanjang masa, Tuhan mengirimkan kepadaku pelindung ketika tangan orang tuaku tak mampu untuk mendekap, Tuhan telah merencanakan semuanya. Hingga aku yakin, kamulah salah satu tempatku berkeluh kesah ketika peliknya dunia perkulihan yang begitu memporakporandakan otakku. Ketika peliknya kisah percintaanku yang tak mampu membuat cerita dengan ending yang bahagia. Ketika peliknya arti kata persahabatan yang ternyata bisa jadi permusuhan. Dunia diluar memang kejam. Betapa aku tak mampu membayangkan ketika sosokmu tak ada dalam hidupku. Aku yang harus bertahan mati – matian untuk hidup dikota orang. Untung aku masih punya sosok kamu. Dan ternyata sosok kekasihku tak seasyik kamu.

Kamu yang faktanya pria yang memiliki wajah tampan. Yang berjuta – juta wanita diluar sana berebutan untuk bisa mengambil hati kamu. Tapi tak berlaku untuk aku. Sedikit saja aku minta kamu untuk menemaniku, walaupun hanya sekedar makan. Secepatnya juga kamu selalu menolong aku. Yah kamu memang selalu ada untukku ketika kita masih dikota itu. Dan akan terus sampai saat ini. Kita sudah ditakdirkan menjadi teman sepanjang masa. Aku yakin rasa iri para wanita penggemarmu sudah mencapai titik dimana mereka ingin melahapku habis – habisan tak bersisa, yang seenaknya saja bisa memilikimu sebagai sahabat baikku dengan mudahnya.

Walau kamu asyik dengan pacarmu dan aku asyik dengan pacarku. Tak jarang ada waktu yang direncanakan Tuhan untuk kita saling ada. Saling bertukar cerita. Ah pertemanan ini terlalu sempurna jika harus dihancurkan dengan kata cinta. Biarlah kita memendam rasa yang kita punya. 21 tahun kita bersama. Apa iya tidak ada rasa cinta? Entahlah. Aku terlalu takut untuk menodai pertemanan ini. Sampai kapanpun aku akan selalu sayang dengan temanku yang satu itu. Begitupun dengannya. Aku yakin itu. Tidak akan pernah kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin bisa terjadi ketika lelaki didunia ini sudah tidak ada lagi.

Biarlah kita menikmati indahnya kisah yang kita punya ini. Yang orang lain mungkin bisa iri. Belajarlah untuk selalu memendam rasa. Dan kita akan menjadi teman sepanjang masa.

R untuk temen kecil

0 komentar


Kepadanya yang mungkin saja tidak akan pernah membaca postingan ini. Teman masa kecil saya yang dulu dikenal sebagai cucuknya sesepuh yang ada di komplek tempat saya tinggal. Memang terlihat tidak penting. Tapi akan menjadi sangat penting ketika moment sore itu terjadi begitu saja.

Kami memang tidak mengenal baik. Bahkan ngobrolpun kami tidak pernah. Yah, selama ini saya hanya mengenal dia teman masa kecil saya yang fotonya secara tidak sengaja tersimpan manis di album masa kecil yang dibuat ibu saya dengan apik. Kami foto berdua, duduk bersampingan. Terlihat lucu. Saya yang hanya mengenakan pakaian dalam, begitupun dengannya. Ah bahkan saya hanya mengenal dia sebatas itu saja.

Sore itu. Takbir di masjidpun sudah berkumandang. Yah, besok memang hari dimana para hewan kurban menyerahkan nyawanya untuk menghadap sang illahi menjadi penguni surga. Seperti biasa dia yang selalu menjumpai neneknya dihari – hari besar. Neneknya yang faktanya menjadi sesepuh di komplek saya tinggal. Siapa yang tidak kenal dia? Cucuknya sang sesepuh yang terkenal dengan kemurahan hatinya.

ketika kecil masih belum mengenal cinta

Saya memegang sapu. Dan menggerakkan tangan untuk membersihkan sekitar rumah petak tempat saya tinggal. Saat itu saya baru saja mandi dan rambutpun masih basah. Tanpa penutup kepala yang biasa saya pakai, masih saja saya berkutat dengan sapu dan pengki didepan rumah. Bisa saja setiap orang yang melewati melihat bagaimana bentuk rambut saya. tapi saya tidak menghiraukannya.

Dan benar. Dia dengan mobilnya itu melintas tanpa permisi saat saya masih asik dengan sapu dan pengki. Saat saya tidak menggunakan penutup kepala yang bisa saja dia melihat betapa berantakannya rambut saya saat itu. Dia yang berada di depan setir mobil dan tetap fokus dengan jalanan gang sempit yang harus dilewatinya. Tanpa melihat saya yang berada tepat disamping kaca mobilnya yang terbuka lebar itu. Wah, betapa tampannya dia sekarang.