Kepadanya
yang mungkin saja tidak akan pernah membaca postingan ini. Teman masa kecil
saya yang dulu dikenal sebagai cucuknya sesepuh yang ada di komplek tempat saya
tinggal. Memang terlihat tidak penting. Tapi akan menjadi sangat penting ketika
moment sore itu terjadi begitu saja.
Kami
memang tidak mengenal baik. Bahkan ngobrolpun kami tidak pernah. Yah, selama
ini saya hanya mengenal dia teman masa kecil saya yang fotonya secara tidak
sengaja tersimpan manis di album masa kecil yang dibuat ibu saya dengan apik.
Kami foto berdua, duduk bersampingan. Terlihat lucu. Saya yang hanya mengenakan
pakaian dalam, begitupun dengannya. Ah bahkan saya hanya mengenal dia sebatas
itu saja.
Sore
itu. Takbir di masjidpun sudah berkumandang. Yah, besok memang hari dimana para
hewan kurban menyerahkan nyawanya untuk menghadap sang illahi menjadi penguni
surga. Seperti biasa dia yang selalu menjumpai neneknya dihari – hari besar.
Neneknya yang faktanya menjadi sesepuh di komplek saya tinggal. Siapa yang
tidak kenal dia? Cucuknya sang sesepuh yang terkenal dengan kemurahan hatinya.
![]() |
| ketika kecil masih belum mengenal cinta |
Saya
memegang sapu. Dan menggerakkan tangan untuk membersihkan sekitar rumah petak
tempat saya tinggal. Saat itu saya baru saja mandi dan rambutpun masih basah.
Tanpa penutup kepala yang biasa saya pakai, masih saja saya berkutat dengan
sapu dan pengki didepan rumah. Bisa saja setiap orang yang melewati melihat
bagaimana bentuk rambut saya. tapi saya tidak menghiraukannya.
Dan
benar. Dia dengan mobilnya itu melintas tanpa permisi saat saya masih asik
dengan sapu dan pengki. Saat saya tidak menggunakan penutup kepala yang bisa
saja dia melihat betapa berantakannya rambut saya saat itu. Dia yang berada di
depan setir mobil dan tetap fokus dengan jalanan gang sempit yang harus
dilewatinya. Tanpa melihat saya yang berada tepat disamping kaca mobilnya yang
terbuka lebar itu. Wah, betapa tampannya dia sekarang.



Posting Komentar