Menyesalkah saya?


Memori ketika satu bulan yang lalu, masih saja datang dengan seenaknya tanpa perrmisi. Rasanya saya sudah ingin mengikhlaskan semua moment yang terjadi saat itu. Saat saya merasa terperangkap dalam ketidaksanggupan hidup yang sudah mengubah cara hidup saya. Ketika saya tidak percaya sudah berada disalah satu kota yang memaksa untuk hidup secara berbeda. Berbeda dari kebiasaan saya ketika hidup bersama orang rumah.

Ada sedikit rasa sakit ketika jemari saya harus membuka salah satu akun media social yang saya punya. Disatu sisi saya hanya ingin melihat notifikasi terbaru yang mungkin bisa menjadi moodboster saya saat itu. Tetapi disatu sisi saya tidak ingin melihat namanya terpajang di halaman timeline yang ada. Dia memang salah satu orang yang berada di list pertemanan saya yang selalu update tentang kehidupannya. Entahlah apa.

Barusan saja saya membukanya. Dan benar saja. Updatean status yang dia buat sudah mengguncangkan emosi saya. Dan berakhir dengan ingatan memori itu yang memaksa saya untuk mengingatnya kembali.

“terima kasih ya allah atas kenikmatan rizki yang engkau berikan. Engkau mengizinkan hamba untuk merasakan gaji pertama”

Teman saya satu nasib ketika satu bulan yang lalu, ketika kita sama – sama merasa sudah terperangkap dalam ketidaksanggupan hidup saat itu. Namun, keputusan yang kita buat berbeda. Dia yang memutuskan untuk melanjutkan, mencoba dan berharap ada perubahan untuk menghadapai ketidaksanggupannya itu. Dan saya yang memutuskan untuk menyudahinya. Karna saya sudah mengetahui ujung dari cerita saya saat itu akan seperti apa.
Biarlah. Entahlah. Saya merasa menyesal karna keputusan yang sudah saya buat. Tetapi akan merasa sangat tidak menyesal ketika saya mengingat kembali keanehan yang terjadi saat itu. Mungkin saya yang terlalu naïf.

0 Response to "Menyesalkah saya?"

Posting Komentar