"Ini malem minggu yah?" Saut anak- anak kecil diluar jendela.
"Panggil semuanya yah! Kita main dilapangan kaya malem minggu kemaren" Saut anak yang lainnya.
Saya ingin kembali ke masa itu. Dimana perkara malam minggu hanyalah perkara mengumpulkan teman dilapangan untuk melakukan permainan. Masalah terbesarnya hanyalah ketika ada teman yang selalu menjadi anak bawang.
Bukan lagi perkara malam minggu sedang bergulat dengan pasien, mengikuti apa yang dokter inginkan, melayani entah siapa itu orang yang tidak pernah saya kenal, bukan lagi perkara pertengakaran apa yang harus dirasakan bersama si pacar, bagaimana merasakan sakit sendirian, dan entah cara seperti apa menyelesaikan.
MUAK. YEAK
"Siapa dia? Seenaknya saja kembali ke saya. Ingat dengan saya. Cuma sedang ada susah!! Lancang."
Kalo saja saya bisa dengar Tuhan berbicara. Mungkin kalimat tersebut yang akan saya dengar. Malu. Saya sangat malu dengan Tuhan. Menggelar sejadah dan menengadahkan tanganpun saya mulai malu. Siapa saya? Yang hanya ingat-Nya ketika susah. Siapa saya? Yang hanya meminta ketika butuh.
Saya benturkan kepala ke tembok. Saya tonjok dada ini dengan kepalan tangan. Tak seberapa sakitnya, dibanding api mendidih di akhirat nanti jika saja saya benar - benar melupakan Tuhan saya.
Saya basuh wudhu segera. Saya gelar sejadah panjang. Saya mohon ampun dengan segala kesalahan. Semoga Tuhan tidak murka pada hamba yang banyak dosa.