Menyesalkah saya?

0 komentar

Memori ketika satu bulan yang lalu, masih saja datang dengan seenaknya tanpa perrmisi. Rasanya saya sudah ingin mengikhlaskan semua moment yang terjadi saat itu. Saat saya merasa terperangkap dalam ketidaksanggupan hidup yang sudah mengubah cara hidup saya. Ketika saya tidak percaya sudah berada disalah satu kota yang memaksa untuk hidup secara berbeda. Berbeda dari kebiasaan saya ketika hidup bersama orang rumah.

Ada sedikit rasa sakit ketika jemari saya harus membuka salah satu akun media social yang saya punya. Disatu sisi saya hanya ingin melihat notifikasi terbaru yang mungkin bisa menjadi moodboster saya saat itu. Tetapi disatu sisi saya tidak ingin melihat namanya terpajang di halaman timeline yang ada. Dia memang salah satu orang yang berada di list pertemanan saya yang selalu update tentang kehidupannya. Entahlah apa.

Barusan saja saya membukanya. Dan benar saja. Updatean status yang dia buat sudah mengguncangkan emosi saya. Dan berakhir dengan ingatan memori itu yang memaksa saya untuk mengingatnya kembali.

“terima kasih ya allah atas kenikmatan rizki yang engkau berikan. Engkau mengizinkan hamba untuk merasakan gaji pertama”

Teman saya satu nasib ketika satu bulan yang lalu, ketika kita sama – sama merasa sudah terperangkap dalam ketidaksanggupan hidup saat itu. Namun, keputusan yang kita buat berbeda. Dia yang memutuskan untuk melanjutkan, mencoba dan berharap ada perubahan untuk menghadapai ketidaksanggupannya itu. Dan saya yang memutuskan untuk menyudahinya. Karna saya sudah mengetahui ujung dari cerita saya saat itu akan seperti apa.
Biarlah. Entahlah. Saya merasa menyesal karna keputusan yang sudah saya buat. Tetapi akan merasa sangat tidak menyesal ketika saya mengingat kembali keanehan yang terjadi saat itu. Mungkin saya yang terlalu naïf.

Jangan Salah Kaprah

0 komentar
Dwitasari


jangan salah kaprah. Kata Dwitasari juga

"tidak semua yang saya tulis adalah saya dan tidak semua yang kamu baca adalah kamu"

So, jangan salah kaprah. Ini hanya sebuah tulisan :)

need

0 komentar

kamulah pendamping hidupku

Saya hanya butuh penyemangat. Saya hanya butuh seseorang yang telinganya siap panas ketika saya bercerita. Saya hanya butuh seseorang yang mulutnya ngomel ketika saya lupa untuk sholat. Saya hanya butuh seseorang yang menyuruh saya menundukkan kepala disetiap akhir sholat saya. Saya hanya butuh seseorang yang tangannya siap mengelus sayang kepala saya. Saya hanya butuh seseorang yang kakinya ikhlas melangkah ke rumah Tuhan untuk menyelipkan nama saya dalam doanya. Saya hanya butuh seseorang yang mampu meredam emosi saya. Saya hanya butuh seseorang yang matanya berbicara ketika menatap mata saya. Seakan dia berkata “betapa beruntungnya dia memiliki saya”.

teman sepanjang masa

0 komentar

kita hanya sebatas sahabat dan mencoba untuk tidak lebih


Asli. Dari jamannya ingusan, main ayun – ayunan di TK, keluar cuma mengenakan kaos kutang bolong, beli ciki dengan uang 100 rupiah, kita sudah dipertemukan. Lihatlah sekarang, kita yang telah tumbuh dewasa. Kita yang sudah mengenal arti kata cinta. Entah takdir atau bukan, kita selalu mendapatkan sekolah yang sama. Mengenakan seragam dengan bet yang sama. Jajan dikantin yang sama. Upacara dilapangan yang sama. Bahkan teman – teman kitapun sama. Sedekat itukah kita? Apa kamu memendam rasa? Atau aku yang memiliki rasa? Entahlah.

Bahkan rumah kitapun tidak berjauhan. Rumah kita hanya dibedakan oleh beberapa rumah saja. Melewati sekitar 4 atau 5 rumah, aku sudah bisa sampai didepan rumahmu. Ah kamu memang teman sepanjang masaku.

Bahkan ketika kuliahpun, kita sama – sama menumpang dikota orang yang sama. Sejauh ini kita masih diizinkan untuk terus berteman. Hingga aku yakin, Tuhan telah menakdirkan kita menjadi teman sepanjang masa, Tuhan mengirimkan kepadaku pelindung ketika tangan orang tuaku tak mampu untuk mendekap, Tuhan telah merencanakan semuanya. Hingga aku yakin, kamulah salah satu tempatku berkeluh kesah ketika peliknya dunia perkulihan yang begitu memporakporandakan otakku. Ketika peliknya kisah percintaanku yang tak mampu membuat cerita dengan ending yang bahagia. Ketika peliknya arti kata persahabatan yang ternyata bisa jadi permusuhan. Dunia diluar memang kejam. Betapa aku tak mampu membayangkan ketika sosokmu tak ada dalam hidupku. Aku yang harus bertahan mati – matian untuk hidup dikota orang. Untung aku masih punya sosok kamu. Dan ternyata sosok kekasihku tak seasyik kamu.

Kamu yang faktanya pria yang memiliki wajah tampan. Yang berjuta – juta wanita diluar sana berebutan untuk bisa mengambil hati kamu. Tapi tak berlaku untuk aku. Sedikit saja aku minta kamu untuk menemaniku, walaupun hanya sekedar makan. Secepatnya juga kamu selalu menolong aku. Yah kamu memang selalu ada untukku ketika kita masih dikota itu. Dan akan terus sampai saat ini. Kita sudah ditakdirkan menjadi teman sepanjang masa. Aku yakin rasa iri para wanita penggemarmu sudah mencapai titik dimana mereka ingin melahapku habis – habisan tak bersisa, yang seenaknya saja bisa memilikimu sebagai sahabat baikku dengan mudahnya.

Walau kamu asyik dengan pacarmu dan aku asyik dengan pacarku. Tak jarang ada waktu yang direncanakan Tuhan untuk kita saling ada. Saling bertukar cerita. Ah pertemanan ini terlalu sempurna jika harus dihancurkan dengan kata cinta. Biarlah kita memendam rasa yang kita punya. 21 tahun kita bersama. Apa iya tidak ada rasa cinta? Entahlah. Aku terlalu takut untuk menodai pertemanan ini. Sampai kapanpun aku akan selalu sayang dengan temanku yang satu itu. Begitupun dengannya. Aku yakin itu. Tidak akan pernah kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin bisa terjadi ketika lelaki didunia ini sudah tidak ada lagi.

Biarlah kita menikmati indahnya kisah yang kita punya ini. Yang orang lain mungkin bisa iri. Belajarlah untuk selalu memendam rasa. Dan kita akan menjadi teman sepanjang masa.

R untuk temen kecil

0 komentar


Kepadanya yang mungkin saja tidak akan pernah membaca postingan ini. Teman masa kecil saya yang dulu dikenal sebagai cucuknya sesepuh yang ada di komplek tempat saya tinggal. Memang terlihat tidak penting. Tapi akan menjadi sangat penting ketika moment sore itu terjadi begitu saja.

Kami memang tidak mengenal baik. Bahkan ngobrolpun kami tidak pernah. Yah, selama ini saya hanya mengenal dia teman masa kecil saya yang fotonya secara tidak sengaja tersimpan manis di album masa kecil yang dibuat ibu saya dengan apik. Kami foto berdua, duduk bersampingan. Terlihat lucu. Saya yang hanya mengenakan pakaian dalam, begitupun dengannya. Ah bahkan saya hanya mengenal dia sebatas itu saja.

Sore itu. Takbir di masjidpun sudah berkumandang. Yah, besok memang hari dimana para hewan kurban menyerahkan nyawanya untuk menghadap sang illahi menjadi penguni surga. Seperti biasa dia yang selalu menjumpai neneknya dihari – hari besar. Neneknya yang faktanya menjadi sesepuh di komplek saya tinggal. Siapa yang tidak kenal dia? Cucuknya sang sesepuh yang terkenal dengan kemurahan hatinya.

ketika kecil masih belum mengenal cinta

Saya memegang sapu. Dan menggerakkan tangan untuk membersihkan sekitar rumah petak tempat saya tinggal. Saat itu saya baru saja mandi dan rambutpun masih basah. Tanpa penutup kepala yang biasa saya pakai, masih saja saya berkutat dengan sapu dan pengki didepan rumah. Bisa saja setiap orang yang melewati melihat bagaimana bentuk rambut saya. tapi saya tidak menghiraukannya.

Dan benar. Dia dengan mobilnya itu melintas tanpa permisi saat saya masih asik dengan sapu dan pengki. Saat saya tidak menggunakan penutup kepala yang bisa saja dia melihat betapa berantakannya rambut saya saat itu. Dia yang berada di depan setir mobil dan tetap fokus dengan jalanan gang sempit yang harus dilewatinya. Tanpa melihat saya yang berada tepat disamping kaca mobilnya yang terbuka lebar itu. Wah, betapa tampannya dia sekarang.

memorebles

0 komentar
Nggak akan bisa terlupa saat – saat :
  • Ketika dinobatkan menjadi salah satu peserta OSPEK tercengeng dan maju kedepan untuk pengalungan hadiah yang nggak seberapa tapi malunya seberapa banget.
  • Ketika duduk manis untuk mendengarkan perkuliahan yang nggak jarang bikin mata ngantuk nggak ketulungan .
  • Ketika minyak kayu putih ngiter dari ujung ke ujung, demi ngeborein kelopak mata biar kepedesan dan melek ngedengerin dosen ngajar.
  • Ketika yang lain sibuk praktik di lab, tapi kita malah pada ngerumpi sambil nyampah cemilan disana.
  • Ketika mukanya dilipet saat ada UAS atau UTEK
  • Ketika harus kesel sama pak Ardi karna ngawas ujian yang kaya malaikat pencabut nyawa
  • Ketika muka timbul jerawat yang merah merekah seperti tomat
  • Ketika mens tidak teratur karna stress
  • Ketika  jam tidur yang berkurang, karna nyusun proposal
  • Ketika malam jadi siang dan siang jadi malam.
  • Ketika deg – degan saat ngambil nilai IPK.
  • Ketika tagihan biaya kuliah yang terus – terusan dihimbau
  • Ketika binggung mau cari makan dimana
  • Ketika harga mbak teteh sudah tidak bersahabat lagi tapi pada akhirnya kembali ke kantong mahasiswa
  • Ketika duduk – duduk didepan kantor dan kena omel karna berisik
  • Ketika dosen nanya “ada yang mau ditanyakan?” tapi kita diem. Dan ketika dosen nanya kembali “udah ngerti?” pun kita diem.
  • Ketika bu Nuria mau muntah pas masuk kelas untuk ngajar kita di jam – jam 14an.
  • Ketika pak Maman marah gara – gara nggak ada yang balikin laptop kampus.
  • Ketika rusuhnya saat pergantian ketua kelas
  • Ketika teman yang satu dengan yang lainnya saling sikut – sikutan
  • Ketika dimarahin kelas kotor gara – gara pada makan dikelas.
  • Ketika ada LK dan nginep dikampus 3 hari. Kekeluargaan kitapun tidak bisa diragukan
  • Ketika istirahat mata seger pas dosen ngajar mata sepet.
  • Ketika ijin kekamar mandi hanya untuk refreshing otak
  • Ketika sekelas berencana ngelabrak Mae yang mulutnya cablak
  • Ketika dikelas saling gede – gedean bacot
  • Ketika ada yang bawa catalog shoppie martin dan heboh kaya ibu – ibu komplek
  • Ketika ada yang bawa catalog oliflame dan heboh dandan sekelas
  • Ketika bekel 1 orang dikelilingin sekelas dan habis ludes gitu aja padahal yang punya belum makan
  • Ketika rebutan colokan buat ngecas hp atau laptopnya masing – masing. Inisiatif untuk beli terminal biar bisa pake banyakan eh malah kebakaran.
  • Ketika mata kuliah dokter Agus, bukannya dengerin kuliahnya malah iseng ngitungin kata ‘yah’ yang keluar dari mulutnya
  • Ketika nangis karna kena her berkali – kali dan disuruh bayar.
  • Ketika naik semester disetiap tahunnya
  • Ketika menerima kenyataan bahwa ada salah satu dari teman kita yang tidak mampu bertahan
  • Ketika kita menyorakan bersama – sama “kita harus lulus bareng – bareng, wisuda bareng”
  • Ketika kita yang biasa dipertemukan setiap harinya dikampus, tapi ada saat – saatnya kita dipisahkan jauh satu sama lain sekitar 3 sampai 4 minggu atau bahkan sampai 2 bulan. Bahkan kadang teman partner kitapun yang belum tentu kita sukai
  • Ketika kejar deadline nulis format sampe gempor, bahkan sampe dosen kurang mampu baca tulisan indah kita.
  • Ketika segala keputusan dosen yang kurang kita sukai, seperti kita dituntut untuk selalu mengenakan daleman jilbab yang buat kepala nyut – nyutan dan kuping ngedenging karna kekencengan
  • Ketika harus turun kelantai bawah sedangkan kelas kita dilantai 3. Nggak jarang sekali atau dua kali bolak – balik
  • Ketikan diantara kita yang sibuk memamerkan kekayaan orang tua kita.
  • Ketika kita panas saat barang yang kita punya ternyata dimiliki juga dengan teman yang lainnya.
  • Ketika nonton film bareng – bareng dikelas dan ketauan pak Ardi. Alhasil lahirlah peraturan baru “dilarang menggunakan peralatan kampus bukan untuk keperluan perkuliahan”.
  • Ketika disetiap angkatan teman kita berganti - ganti
  • Ketika galau menggunakan nametag ijo. Takut kena tanya “udah bisa apa pake ijo?”
  • Ketika kita disibukkan dengan target format ditambah studi kasus ditambah penelitian ditambah nyusun KTI ditambah sidang.
  • Ketika galau nyocokin jadwal sidang antara penguji 1 dengan penguji 2. Ketika udah dapet waktunya, galau mau sidangnya gimana. Materinya apa aja.
  • Ketika belajar buat OSCA. Praktekin breastcare ke tetek sendiri. 
  • Ketika ah masih banyak lagi deh 

    pada akhirnya, akan seperti ini :

OSCA

0 komentar

Masih keinget banget saat – saat gundah gulana mau ngadepin Pra-UAP dan UAP. Sebenernya saat itu belum kepikiran bakal kaya gimana suasana didalem ruangan ujian. Walaupun sebelumnya disemester – semester kemarin ujian praktik saya menggunakan metode yang sama dengan ujian yang bakal saya hadepin ini. Metode OSCA. Entah apa kepanjangan dari OSCA. Yang saya tau, ujian praktik dengan menganalisa kasus yang memaksa otak saya berfikir dari kasus tersebut tindakan apa yang akan saya lakukan dengan time manegement hanya 10 menit. Perlu diketahui, satu minggu sebelum ujian Pra-UAP dan UAP ini, berlangsung sidang KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang sebagai salah satu syarat kelulusan juga. Kebetulan saya salah satu mahasiswa dengan jadwal sidang yang pertama. Alhasil dalam seminggu itu saya mempersiapkan matang – matang materi sidang yang akan saya sajikan didepan penguji. Tidak akan ada lagi kata “tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dan mengeluarkan jurus cengar – cengir yang biasa digunakan teman – teman saya ketika stuck dengan pertanyaan penguji yang bikin mati berdiri”. Saya hurus bisa mempertahankan argument saya. Saya harus bisa menjawab pertanyaan penguji. Saya harus bisa menyenangkan dosen pembimbing saya. Dan yang pertama, saya harus bisa membanggakan orang tua saya. Dengan belajar yang gigih, sidang KTI sayapun berjalan dengan lancar dan sukses. Kata – kata terakhir yang disampaikan dosen pembimbing saya saat itu sebelum menutup sidang adalah “Alhamdulillah. Saudari shifa sudah menyelesaikan sidangnya dan hasilnya bagus. Sekarang bisa focus ke ujian Pra-UAP dan UAP”. What the hell. Please beri saya sedikit oksigen untuk bernafas.

Minggu menghadapi Pra-UAP pun dimulai dengan pembekalan dari dosen yang menurut saya seadanya. Yah SE - A - DA - NYA. Maaf bukan bermaksud untuk tidak menghargai kinerja dosen tapi ini masalah hidup mati saya untuk menghadapi ujian itu. Pembekalan yang hanya 3 hari dengan mengulang mengupas tuntas kembali materi perkuliahan selama 3 tahun. Hanya duduk manis dikelas, menjawab contoh – contoh soal tanpa harus mengulang skill yang akan diuji nanti.
Pra-UAP pun akhirnya datang. Siang yang memaksa saya untuk mengenakan seragam praktik putih – putih. Pukul 13.00 saya memasuki ruang ujian dihiasi 24 stasi dengan aksen penguji disetiap stasinya. Bel tanda dimulaipun berbunyi. 3 jam yang menguras air mata saya. Breastcare…. manual plasenta…. resusitasi…. pasang IUD… ANC… Sanggah susur…. aaaaaaaaaaaaaaaarrggggkkkk….GATOT. GAGAL TOTAL. Saya benci ujian tanpa persiapan ini. Saya akui dibalik kurangnya pembekalan yang diberikan dosen, sayapun kurang maksimal dalam belajar.
Pada akhirnya, memaksa air mata saya harus keluar deras membasahi handuk good morning yang saya pakai untuk ujian tadi.
Galau. Gagal. Bego. Kesel. Nyesel. Malu. Putus asa. Labil.
“udahlah prêt, ini baru Pra-UAP belum UAPnya. Nanti pas UAP harus belajar lebih lagi”
“udahlah prêt, gak usah nangis. Sama kok gue juga banyak yang gagal”
“udahlah prêt, ini belum apa – apa. Anggep aja ini gambarannya buat UAP nanti nah pas UAP harus lebih baik dari ini”
Temen - temen saya terus ngasih semangat, padahal saya tau sebenernya merekapun merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Mungkin mereka lebih tegar.
 ***

Akhirnya, karena hasilnya kurang memuaskan bagi pihak kampus. Mereka memutar otak bagaimana mahasiswa didik mereka mampu melewati ujian ini tanpa harus mendapatkan nilai yang memalukan. Karena, saat UAP nanti pengujipun tidak hanya dari pihak kampus. Tetapi dari pihak lahan praktik yang sering kita pakai. Misal, CI VK RSUD Cilegon, CI VK RSUD Adjidarmo, Bidan Koordinator Puskesmas Serang Kota dan lain sebagainya. Pihak kampus tidak mau mahasiswa tidak mampu melakukan tindakan yang benar sesuai dengan Standar Operasional yang berlaku. Tetapi kampuspun berprinsip “tidak akan meluluskan mahasiswa yang dianggap memang belum mampu atau belum kompeten”. Itu.
Pengkayaan atau pembekalanpun di adakan lagi. Untuk kali ini ada pengkayaan skill juga. Dan itu membuat saya lebih bersemangat. Saya harus bisa. Karena dari hasil Pra-UAP kemarin, saya lebih banyak di her di bagian skill dibandingkan dengan teori. Saat pembekalan skillpun dosen meminta mahasiswa untu mendemokan tindakan disetiap stasinya. Karena saya bersemangat dan saya harus bisa. Saya maju disetiap stasi ketika teman – teman saya tidak ada yang mau untuk melakukannya. Bagi saya, itu adalah kesempatan yang sangat berharga. Karena dengan mencoba, kita tau apa yang salah dan kurang dari diri kita. pengkayaan dimulai dari jam 07.30 sampai pukul 21.00. Mabok sih, tapi gak masalah.
Selain dijejali dengan ilmu pengetahuan, dosen – dosen seringkali memberikan dukungan moril pada kita semua. Saya ingat support yang diberikan salah satu dosen terfavorit dikampus.
“Allah itu ada bersama prasangka kita. kalo kita yakin kita bisa, kita pasti akan bisa. Tapi kalo kita ragu, dia juga akan ragu. Maka dari itu buang jauh – jauh pikiran negative kita, simpan pikiran yang baik – baik aja. Bilang SAYA BISA SAYA BISA SAYA BISA SAYA BISA dalam hati, kalo perlu sampe seribu kali.”
Luaaaaaaaaarrrrrr biasaaaaaaaaaaaaahh….

“yang tau sejauh mana kemampuan kita itu cuma diri kita sendiri. Jadi kalo kamu belum mampu mengerti hanya dengan sekali baca, maka bacalah untuk yang kedua kalinya. Jika masih belum mengerti juga, baca untuk yang ketiga kalinya, lakukan seterusnya sampe kamu anggap kamu mengerti. Berarti sebatas itu kemampuan kamu. Maka terus berlatih dan membacalah”.
Kata – kata itulah yang mendorong saya terus semangat belajar dan yakin kalo saya bisa. Dan pasti bisa. Terbukti saat Pra - UAP dari jumlah 17 stasi yang ada, saya di her sebanyak 7 stasi, saat UAP saya hanya kena her 1 stasi. Yah walaupun masih ada yang kena her, tapi setidaknya saya bisa melawan mental block yang kurang menguntungkan bagi saya.
Jadi, teruslah belajar, berlatih dan membaca. Jangan lupa diiringi komunikasi dengan yang Maha Segala. Karna hanya Dialah yang berkuasa membolak – balikkan keadaan. Sekalipun yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.