Masih
keinget banget saat – saat gundah gulana mau ngadepin Pra-UAP dan UAP.
Sebenernya saat itu belum kepikiran bakal kaya gimana suasana didalem ruangan
ujian. Walaupun sebelumnya disemester – semester kemarin ujian praktik saya
menggunakan metode yang sama dengan ujian yang bakal saya hadepin ini. Metode
OSCA. Entah apa kepanjangan dari OSCA. Yang saya tau, ujian praktik dengan
menganalisa kasus yang memaksa otak saya berfikir dari kasus tersebut tindakan
apa yang akan saya lakukan dengan time manegement hanya 10 menit. Perlu
diketahui, satu minggu sebelum ujian Pra-UAP dan UAP ini, berlangsung sidang KTI
(Karya Tulis Ilmiah) yang sebagai salah satu syarat kelulusan juga. Kebetulan
saya salah satu mahasiswa dengan jadwal sidang yang pertama. Alhasil dalam seminggu
itu saya mempersiapkan matang – matang materi sidang yang akan saya sajikan
didepan penguji. Tidak akan ada lagi kata “tidak mampu menjawab pertanyaan
penguji dan mengeluarkan jurus cengar – cengir yang biasa digunakan teman –
teman saya ketika stuck dengan pertanyaan penguji yang bikin mati berdiri”. Saya hurus bisa mempertahankan argument saya. Saya harus
bisa menjawab pertanyaan penguji. Saya harus bisa menyenangkan dosen pembimbing
saya. Dan yang pertama, saya harus bisa membanggakan orang tua saya. Dengan
belajar yang gigih, sidang KTI sayapun berjalan dengan lancar dan sukses. Kata
– kata terakhir yang disampaikan dosen pembimbing saya saat itu sebelum menutup
sidang adalah “Alhamdulillah. Saudari shifa sudah menyelesaikan sidangnya dan
hasilnya bagus. Sekarang bisa focus ke ujian Pra-UAP dan UAP”. What the hell.
Please beri saya sedikit oksigen untuk bernafas.
Minggu menghadapi Pra-UAP pun dimulai dengan pembekalan
dari dosen yang menurut saya seadanya. Yah SE - A - DA - NYA. Maaf bukan bermaksud untuk tidak menghargai
kinerja dosen tapi ini masalah hidup mati saya untuk menghadapi ujian itu. Pembekalan
yang hanya 3 hari dengan mengulang mengupas tuntas kembali materi perkuliahan
selama 3 tahun. Hanya duduk manis dikelas, menjawab contoh – contoh soal tanpa
harus mengulang skill yang akan diuji nanti.
Pra-UAP pun akhirnya datang. Siang yang memaksa saya
untuk mengenakan seragam praktik putih – putih. Pukul 13.00 saya memasuki ruang
ujian dihiasi 24 stasi dengan aksen penguji disetiap stasinya. Bel tanda dimulaipun
berbunyi. 3 jam yang menguras air mata saya. Breastcare…. manual
plasenta…. resusitasi…. pasang IUD… ANC… Sanggah
susur…. aaaaaaaaaaaaaaaarrggggkkkk….GATOT. GAGAL TOTAL. Saya benci ujian tanpa
persiapan ini. Saya akui dibalik kurangnya pembekalan yang diberikan dosen,
sayapun kurang maksimal dalam belajar.
Pada akhirnya, memaksa air mata saya harus keluar deras
membasahi handuk good morning yang saya pakai untuk ujian tadi.
Galau. Gagal. Bego. Kesel. Nyesel. Malu. Putus asa.
Labil.
“udahlah prêt, ini baru Pra-UAP belum UAPnya. Nanti pas UAP harus belajar lebih lagi”
“udahlah prêt, gak usah nangis. Sama kok gue juga banyak
yang gagal”
“udahlah prêt, ini belum apa – apa. Anggep aja ini gambarannya
buat UAP nanti nah pas UAP harus lebih baik dari ini”
Temen - temen saya terus ngasih semangat, padahal saya
tau sebenernya merekapun merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Mungkin
mereka lebih tegar.
***
Akhirnya, karena hasilnya kurang memuaskan bagi pihak
kampus. Mereka memutar otak bagaimana mahasiswa didik mereka mampu melewati
ujian ini tanpa harus mendapatkan nilai yang memalukan. Karena, saat UAP nanti
pengujipun tidak hanya dari pihak kampus. Tetapi dari pihak lahan praktik yang
sering kita pakai. Misal, CI VK RSUD Cilegon, CI VK RSUD Adjidarmo, Bidan Koordinator
Puskesmas Serang Kota dan lain sebagainya. Pihak kampus tidak mau mahasiswa
tidak mampu melakukan tindakan yang benar sesuai dengan Standar Operasional
yang berlaku. Tetapi kampuspun berprinsip “tidak akan meluluskan mahasiswa yang
dianggap memang belum mampu atau belum kompeten”. Itu.
Pengkayaan atau pembekalanpun di adakan lagi. Untuk kali
ini ada pengkayaan skill juga. Dan itu membuat saya lebih bersemangat. Saya
harus bisa. Karena dari hasil Pra-UAP kemarin, saya lebih banyak di her di
bagian skill dibandingkan dengan teori. Saat pembekalan skillpun dosen meminta
mahasiswa untu mendemokan tindakan disetiap stasinya. Karena saya bersemangat
dan saya harus bisa. Saya maju disetiap stasi ketika teman – teman saya tidak
ada yang mau untuk melakukannya. Bagi saya, itu adalah kesempatan yang sangat
berharga. Karena dengan mencoba, kita tau apa yang salah dan kurang dari diri
kita. pengkayaan dimulai dari jam 07.30 sampai pukul 21.00. Mabok sih, tapi gak
masalah.
Selain dijejali dengan ilmu pengetahuan, dosen – dosen
seringkali memberikan dukungan moril pada kita semua. Saya ingat support yang
diberikan salah satu dosen terfavorit dikampus.
“Allah itu ada bersama prasangka kita. kalo kita yakin
kita bisa, kita pasti akan bisa. Tapi kalo kita ragu, dia juga akan ragu. Maka
dari itu buang jauh – jauh pikiran negative kita, simpan pikiran yang baik –
baik aja. Bilang SAYA BISA SAYA BISA SAYA BISA SAYA BISA dalam hati, kalo perlu
sampe seribu kali.”
Luaaaaaaaaarrrrrr biasaaaaaaaaaaaaahh….
“yang tau sejauh mana kemampuan kita itu cuma diri kita
sendiri. Jadi kalo kamu belum mampu mengerti hanya dengan sekali baca, maka
bacalah untuk yang kedua kalinya. Jika masih belum mengerti juga, baca untuk
yang ketiga kalinya, lakukan seterusnya sampe kamu anggap kamu mengerti. Berarti
sebatas itu kemampuan kamu. Maka terus berlatih dan membacalah”.
Kata – kata itulah yang mendorong saya terus semangat
belajar dan yakin kalo saya bisa. Dan pasti bisa. Terbukti saat Pra - UAP dari jumlah 17 stasi
yang ada, saya di her sebanyak 7 stasi, saat UAP saya hanya kena her 1 stasi. Yah
walaupun masih ada yang kena her, tapi setidaknya saya bisa melawan mental
block yang kurang menguntungkan bagi saya.
Jadi, teruslah belajar, berlatih dan membaca. Jangan lupa diiringi komunikasi dengan yang Maha Segala. Karna
hanya Dialah yang berkuasa membolak – balikkan keadaan. Sekalipun yang tidak
mungkin akan menjadi mungkin.