Hari ini gue dapet pelajaran berharga
banget. Siapa yang kira, bocah yang dulu dijulukin anak mamih sekarang lagi
berusaha ngelamar kerjaan sana – sini. Iqbal, cowok satu ini sangat terkenal
dengan julukan itu. Sudah merekat.
Saat itu pagi menjelang siang. Pasien dipuskesmas tempat gue
dines masih rame banget. nggak seperti biasanya, diatas jam 10 para petugas
sudah bisa ongkang – ongkang kaki. Atau bahkan kabur keluar dengan alasan yang
beraneka ragam. Walaupun gue dines di ruang KIA, tapi nggak jarang gue sering
ngebantuin di tempat pengobatan orang dewasa.
Tangan gue masih saja bergerak menulis. Gue
menoleh kearah loket pendaftaran yang tidak jauh dari tempat gue duduk. Dia
berdiri tegak membelakangi gue. Dia rapi sekali, mengenakan kemeja kotak –
kotak dipadankan dengan skiny jeans nya yang merekat dibagian kakinya. Dia berbalik dan mendekat kearah gue dengan membawa selembar kertas KIR. Langkahan kakinya seolah
– olah seperti orang yang sangat yakin dan percaya diri. Wajahnya berkerut saat
melihat muka gue. Begitu pula dengan gue.
“Iqbal”
Siapa yang tidak kenal dia. Murid yang selalu terkenal disetiap sekolahnya. SD, SMP bahkan sampai SMA. Yah, selama itu gue mengenal dia.
Disaat – saat tabungan anak SD yang hanya beberapa ratus ribu. Dia sudah
berjuta – juta. Disaat – saat bangunan sekolah SD ingin diperbaiki dan
kekurangan biaya, keluarganya bersedia menjadi donatur terbesar. Disaat – saat
anak SMP yang belum mengenal bergaulan bebas. Dia sudah pernah kena sanksi
karna kepergok ngerokok di kamar mandi sekolah. Disaat – saat anak SMP berteman
hanya sekedarnya saja. Dia menjadi ketua geng besar yang terkenal nakal. Disaat
– saat cowok lain susah mendapatkan cewek tercantik di sekolah. Dia sudah dapat
mencium bibirnya. Disaat – saat yang lain sedang menikmati dunia SMA. Dia harus
merasakan bagaimana rasanya di DO dari sekolah. Disaat – saat….. ah siapa yang
tidak kenal dia!!! “Muhammad Iqbal”
“Iqbal, ada apa?” sapa gue yang sok akrab. Selama gue satu sekolah dengan
dia, jarang sekali gue ngobrol dengannya. Siapa dia? Orang yang
terkenal disetiap sekolahnya? Nggak ngefek sama hidup gue.
“eh elo, ngapain lo disini? Kerja?”
hahaha listen once more yah temen – temen. “eh elo”. Gue yakin seyakin –
yakinnya dia nggak inget sama sekali nama gue. Siapa gue? Orang yang
dia kenal? Ngobrol aja jarang.
“enggak. Gue lagi dines aja disini” jelas gue “ada
perlu apa bal?” lanjut gue bertanya.
“ini, gue mau bikin surat keterangan sehat” jelas dia sambil melemparkan
senyumannya.
“oh, sini gue bikinin. Buat apa bal?” tanya gue sambil mengambil
kertas KIR yang dia pegang.
“buat ngelamar kerja” jawabnya dia dengan percaya diri
“oh. Mau ngelamar dimana bal?” tanya gue sambil membuatkan surat
sehat untuknya.
“di Posko” jawabnya sambil menghela nafas.
Iqbal. Bocah yang gue kenal selalu
diantar mamih papihnya kemanapun dia pergi, sekarang dia berubah sekali. Siapa
yang nyangka. Yang gue kira dia nggak perlu khawatir mau kerja
dimana. Toh papihnya punya perusahaan yang mungkin bisa memasukkan siapapun
yang papihnya mau. termasuk anaknya sendiri. Sekarang
dia harus berusaha keras buat masuk kerjaan.
Karna apa?? Kabar terakhir gue denger
tentangnya. Papihnya sudah meninggal. Nggak lama setelah dia di DO dari sekolah
saat SMA. Gue pun nggak ngerti lulusannya dia apa? Ada yang bilang dia
home schooling. Apa yang bilang nggak sekolah lagi. Ah macem – macem.
Apa yang buat Iqbal berubah seperti ini. Tutur
katanya pun sangat sopan saat berbincang dengan gue. Tidak seperti
orang yang tidak berpendidikan. Apakah keadaan yang memaksa dia harus berubah?
Atau dia masih hanya main – main saja?
Entahlah. Apapun alasannya, gue do’ain
Iqbal selalu diberikan kemudahan. Amin.


Posting Komentar