KASAR




Kasar. Tangannya makin kasar.

Sudah berapa lama saya tidak pernah mencium tangannya? Sudah berapa lama saya tidak lagi bercengkrama dengannya. Bukan. Bukan. Bukan bercengkrama. Tepatnya mendengarkan petuahnya. Ah, rasanya sudah begitu lama saya tidak pernah duduk berlama - lama dengannya. Duduk berlama - lama tanpa harus ada yang bicara. Iya. Saya dan dia memang suka seperti itu. Percaya atau tidak, saya pernah menemani dia melakukan perjalanan ke jakarta. Disepanjang jalan di mobil, kita tidak ngobrol apa - apa. Tidak ada topik yang bisa membuka obrolan kita. Cilegon - jakarta, saya dan dia hanya diam saja. Dia yang tetap fokus dengan jalan dan saya yang fokus menikmati perjalanan. Sekaku itu saya dengannya. Setakut itu saya dengannya. Sebegitunya saya menghormati dia.


Kasar. Tangannya makin kasar.

Mungkin karna batu bata yang terlalu banyak dia susun untuk membangun rumah kita. Mungkin karna adonan semen yang terlalu sering dia aduk untuk mengokohkan rumah kita. Mungkin karna mesin - mesin baja yang dia atur di tempat kerjanya.


Kasar. Tangannya semakin kasar.

Entah apa yang membuat keadaan seperti ini. Sudah jarang sekali saya mencium tangannya. Ketika saya berangkat kerja, dia belum ada dirumah. Ketika dia pulang kerja, saya sudah tertidur atau bahkan saya sedang tidur bukan dikamar yang dia bangun untuk saya. Bisa jadi, saya sedang tidur di tempat kerja karna sedang bertugas malam. Ketika pagi saya pulang, sering kali saya melihat dia sedang tertidur pulas mungkin lelah dengan aktivitasnya. Hingga akhirnya, tangannya semakin kasarpun saya telat mengetahuinya.


Kasar. Tangannya saya rasakan semakin kasar.

Jahat sekali saya. Beberapa minggu yang lalu, dia memohon - mohon pada saya untuk sedikit meluangkan waktu. Meminta saya pergi bersama mengunjungi nenek saya satu - satunya yang masih ada. Satu - satunya. Saya sudah tidak lagi punya kakek atau nenek selain nenek yang bertahan hidup di desa. Sendirian. Dan beliau adalah ibu dari manusia yang tangan makin kasar ini.


Sampai akhirnya. Pulang kerja tadi ketika saya sedang memejamkan mata sejenak di atas tempat tidur yang begitu nyaman, handphone saya berdering beberapa kali dan suara wanita sepuh yang sangat khas itu memecahkan rasa kantuk saya. Gila, berdosa sekali saya yang ternyata sang pria yang tangannya makin kasar ini berangkat juga menjenguk ibunya di desa. Tentunya tanpa saya. Anak yang terlalu  beralasan banyak untuk mengiyakan permohonan ayahnya. Bukan tidak mau. Tapi saya tidak bisa. Jadwal libur saya yang susah sekali dicocokkan dengan jadwal liburnya. Saya hanya bisa ngobrol dengan nenek saya dari telfon saja, ternyata khayalan saya untuk bercerita banyak masih harus tersimpan manis di imajinasi saya. Karna di batasi pulsa dan signal disana yang naik turun.


Tangannya kasar. Mungkin akan makin kasar.

Sampai sekarang dia masih menjadi sosok yang sangat saya takuti. Saya takut untuk bercerita tentang masalah hidup saya, saya takut bercerita tentang masalah kerjaan saya, saya takut bercerita tentang kehidupan percintaan saya. Karna apa? Karna dia begitu tidak asik untuk menjadi ayah yang bisa berubah menjadi teman untuk anak - anaknya. Dia sangat tidak asik. Begitu saya mengeluh, dia hamya mengingatkan saya kalau saya masih punya Tuhan dan Al - Qur'an masih menjadi kitab suci saya. Katanya "gak ada yang harus diragukan. Kalo Al - Qur'an udah melarang ya jangan. Kalo Al - Qur'an memang memperbolehkan ya lakukan". Sebegitu tidak asiknya dia. Bahkan walaupun saya tidak pernah menceritakan masalah saya, bisa - bisanya dia tau. Entahlah dari mana. Dia jarang sekali ngomong, ketika menasehati sayapun kalo dia lagi gak mau ngomong ya dia tidak ngomong, yang dilakukan adalah : buka youtube searching ceramah Aa Gym dia pilih tema apa yang ingin ia sampaikan pada saya, dipasang sound dengan volume yang cukup besar sebisa mungkin suara Aa Gym masuk ketelinga saya walaupun saya berada di dalam kamar, walaupun saya sedang menggunakan headset. Sebegitu tidak asiknya dia. Baju yang paling nyaman yang ia kenakan adalah baju koko. Karna apa? Karna baju itu yang paling pantas untuk masuk ke dalam masjid, menurut versinya. Baju - baju pemberian sayapun jarang sekali ia pakai. Katanya terlalu mewah, dipakenya tidak pantas. Ah, dia begitu kaku. Itu sebabnya saya mulai males memberikan barang untuknya. Dia terlalu sederhana, bahkan mungkin terlihat seperti orang yang tidak punya. Topi yang paling nyaman menurut versinya ya cuma peci.


Malam ini dia berada jauh dengan saya. Saya dirumah bersama ibu dan adik - adik saya sedangkan dia mungkin sedang bermanja - manja dengan ibunya disana. Sukabumi memang kota selalu nagih untuk didatanginya lagi. Mungkin sekarang dia sedang makan singkong goreng hasil berkebun sore tadi bersama ibunya. Duduk - duduk diteras ditemani kopi yang dibuatkan ibunya. Bukan lagi buatan saya. Mungkin dia sedang menceritakan tentang saya pada ibunya. Betapa malunya dia memiliki anak seperti saya, yang berat sekali untuk diajak nengok neneknya.


Tangannya kasar. Iya. Kasar.

Seperti apapun ayah saya, saya sangat sayang dengannya. Pengorbanannya membangun rumah tanpa bantuan siapapun, demi siapa? Demi saya yang ia janjikan untuk membuat istana di lantai 2 karna saya memilih kuliah tidak jauh dari mereka. Mungkin saja saat itu saya bisa kuliah di Malang, Surabaya atau di Jogja, cumannya orang tua saya yang terlalu berat untuk mengiyakan pilihan saya. Saya sayang sekali dengannya. Uang yang ia keluarkan demi keperluan saya. Kini sudah saatnya saya tidak lagi meminta uangnya. Biarlah uang yang seharusnya jatah saya diberikan untuk adik - adik saya. Saya terlalu amat sangat menyayanginya. Saya tidak pernah sekalipun mengatakan kalimat tadi padanya. Mungkin saja dia tidak pernah tau sebegininya saya mengagumi sosoknya. Saya dan dia terlalu sungkan untuk menyatakan rasa sayang. Biarlah doa yang mengisyaratkan dari setiap rasa sayang saya padanya.


Saya terlalu amat sangat menyanyanginya. Sebegitu tidak asiknya dia, masih saja mampu menjadi orang yang selalu saya sebut di dalam doa. Saya begitu mencintainya. Sebegitu kakunya dia, ternyata saya mulai terbiasa dan mulai nyaman mendengarkan ceramah Aa Gym yang biasa ia setel untuk menyindir saya. Ternyata baju koko memang membuat dia terlihat makin tampan menurut versi saya. Ternyata peci yang sering ia pakai memang mampu menutupi uban dirambutnya. Ah, begitu panjang cerita tentang dia. Terlalu kurang ajar, kalau saya jelek - jelekan dia lalu semena - mena membanggakannya.


Yah, tangan ayah saya memang semakin kasar. Dan saya mulai jarang merasakannya. Tapi, dari kekasaran tangannya itu ingin menjelaskan pada saya bahwa hidup ini keras dan kasar. Kita harus mampu menempuhnya. Biarlah tangan kita menjadi kasar, semakin kasar semakin membuktikan kalau kita sanggup mejalaninya.



Love Pak Hendar




0 Response to "KASAR"

Posting Komentar