When i'm tired



Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?
Hidup memang pilihan. Saya sudah memilih untuk bekerja mencari pengalaman setelah saya lulus dari bangku perkuliahan. Sebagian teman saya banyak yang memilih untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, sebagian teman yang lain ada yang lebih memilih untuk mencari pengalaman kerja. Termasuk saya. Alasannya berbeda - beda.


Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?

Hampir sembilan bulan saya bekerja. Apa yang sudah saya dapatkan? Nyatanya saya masih harus banyak belajar. Ketika ada kasus - kasus tertentu, saya masih harus buka buku, browsing di internet atau bertanya pada senior. Saya masih harus banyak belajar. Pilihan untuk terus mencari ilmu sampai setinggi - tingginya memang benar. Saya bisa rasakan itu. Otak saya masih belum sampai untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan pasien yang begitu kritis. Kadang, kehadiran dokter masih saya butuhkan.


Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?


Yah. Saya bekerja dengan atasan yang sangat perfectionist. Selalu menuntut kesempurnaan. Beliau tidak ingin karyawannya banyak alasan. Saya bekerja dengan dokter yang sangat pandai. Memiliki ilmu komunikasi terapeutik yang baik. Cerdas dan cerdik. Yah. Dialah dokter atasan saya. Dihampir sembilan bulan ini, apa yang sudah saya dapatkan?

Saya banyak makan hati dengannya. Saya banyak tidak dihargai dengannya. Sering kali, kesalahan yang bukan saya lakukan imbasnya saya yang kena omelan. Sering kali sholat saya diburu - buru karna ruang praktek tidak ada yang jaga. Jadwal makan saya yang menjadi tidak beraturan. Saya mulai kehilangan satu persatu moment bersama keluarga. Waktu main saya yang tidak pernah merasa bebas. Ketika liburpun sering kali ditelfon untuk urusan klinik. Atau jadwal libur yang harus kepending gara - gara menggantikan dines teman yang sakit. Saya dituntut untuk berpenampilan menarik. Saya tidak lagi mengenal alat dopller, karna di tempat saya kerja sudah menggunakan alat CTG. Saya tidak lagi menggunakan lampu 60 watt dengan jarak 60 cm untuk pemanas bayi, karna di tempat saya kerja sudah menggunakan infant warmer. Saya tidak lagi harus bulak - balik mengobservasi tanda - tanda vital pasien setiap satu jam sekali, karna di tempat saya kerja pasien observasi sudah menggunakan alat monitoring. Ketika saya infus pasien, tidak lagi menggunakan aboket karna di tempat saya kerja sudah menggunakan venplon. Saya tidak lagi harus palpasi pada ibu hamil karna saya dikenalkan dengan alat USG. Saya tidak lagi mengenal alur rujukan, karna di tempat saya kerja adalah klinik yang memiliki ruang operasi dengan alat yang memadai. Jika pasien inpartu yang gagal partus normal dan harus di operasi bisa langsung segera dilakukan tindakan. Lalu di hampir sembilan bulan saya bekerja, apa yang sudah saya dapatkan?


Dan ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?


Diam. Saya terdiam. Saya merenung. Saya mulai mengingat - ingat kembali masa dimana saya setiap harinya hanya disibukkan ke tempat fotocopian. Membawa map ijazah beserta berkas - berkas yang saya punya. Masa dimana saya menghabiskan ratusan ribu hanya untuk mengcopi berkas tersebut untuk selanjutnya saya sebar ke tempat yang mungkin akan menjadi tempat kerja saya nantinya. Masa dimana saya hanya diam dirumah, nonton acara televisi yang mulai saya hafal jadwal tayangnya. Masa dimana kerjaan saya hanya menanti panggilan nomer tak dikenal yang masuk ke dalam handphone saya. Masa dimana saya selalu berkhayal disepanjang malam. Berharap ada kesibukan yang akan saya dapat untuk mengisi kekosongan hari - hari saya. Ah, masa - masa itu memang menyakitkan dan saya tidak ingin merasakannya lagi.


Lalu setelah semuanya saya dapatkan, apalagi yang harus dikeluhkan?


Saya mulai mengeluh ditengah kesibukan yang saya dapatkan yang dulu saya impikan. Mungkin Tuhan bosan mendengar setiap hari rengekan saya yang begitu cengeng.


Saya hanya ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Nyatanya saya sudah banyak melupakan Dia. Saya sudah jarang sekali membaca pedoman hidup saya. Saya sudah jarang sekali duduk berlama - lama untuk memohon kepada-Nya. Saya sudah jarang sekali menundukan kepala di akhir sholat saya. Saya mulai melupakan-Nya.


Di sore ini setelah saya menunaikan sholat ashar, mengadu apa yang ingin saya adukan padaNya. Bersimpuh diatas sajadah yang begitu hangat. Saya merasakan ketenangan. Saya merasakan begitu tentram. Saya merasakan ada yang damai. Saya mulai ikhlas, saya ikhlas atas kenikmatan yang Tuhan beri pada saya. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk selalu sabar. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk berbicara lemah lembut. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk menenangkan pasien  yang begitu cemas. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk saling menghormati dengan sesama rekan kerja. Tanpa disadari, saya mulai terlatih komunikasi terapeutik ke pasien dengan baik. Tanpa disadari, saya mulai terlatih menggunakan alat USG 4 Dimensi. Tanpa disadari, saya hafal obat - obatan khusus ibu hamil yang biasa diresepkan dokter. Tanpa disadari sudah berapa bayi yang saya pegang pertama kali setelah ia lahir ke bumi. Tanpa disadari sudah berapa bayi yang saya mandikan di setiap pagi. Tanpa disadari, saya mulai terlatih memasukan jarum suntik ke vena langsung. Tanpa disadari, saya mampu memberikan asuhan pada pasien yang mengalami infeksi luka operasi. Tanpa disadari, perawatan luka yang saya lakukan sampai pada keadaan pulih total. Tanpa disadari, saya mengetahui kasus kebidanan yang begitu kompleks yang dulu ketika saya kuliah tidak pernah dikenalkan. Tanpa disadari, saya mampu bekerja sangat cekatan. Tanpa disadari, lingkungan kerja saya bersama dokter - dokter spesialis hebat yang mungkin nantinya saya bisa saja dibantu mereka. Tanpa disadari, saya mulai memperhatikan penampilan saya. Tanpa disadari, saya mulai mengenal alat - alat make up. Tanpa disadari, saya mampu berhias wajah sendiri. Tanpa disadari, saya mampu menggunakan sepatu berhak tinggi. Tanpa disadari, penampilan saya berubah menjadi sangat feminim. Tanpa disadari, saya terbiasa dengan alat - alat kebidanan yang canggih. Tanpa disadari, saya mampu mengaplikasikannya.


Ternyata di hampir sembilan bulan saya bekerja, sudah banyak yang saya dapatkan. Lalu, apa yang kurang? Lalu, apa yang dikeluhkan?

Lelah.

Saya hanya merasakan itu.

Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?

Diam.

Lalu tidur.

Hanya itu yang saya butuhkan. Setelah itu saya akan pulih kembali. Dan saya akan bersemangat kembali.
Sampai saat ini saya masih bangga menggunakan seragam kerja yang setiap harinya saya pakai. Ketika saya mengingat kembali proses mendapatkannya, saya hanya bisa tersenyum dan bersyukur. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti saya. Masih banyak lulusan kebidanan yang berharap lebih ditempat saya kerja. Dan saya sudah mendapatkannya. Maaf kalau selama ini saya hanya bisa mengeluh, karna saya hanya ingin tidur.



0 Response to "When i'm tired"

Posting Komentar