Saya hanya bertanya

0 komentar


Sudah berapa lama kamu mengenal saya?

Bukankah saya kurang suka dengan sesuatu yang tidak pasti? Mau sampai kapan kamu harus selalu mengikuti apa yang menjadi mau saya?

Bilang iya, kalo memang iya. Bilang tidak kalo memang tidak. Jangan bertele - tele. Bukankah kamu tau saya tidak suka yang bertele - tele? Masih belum paham?


Larang saya kalo memang salah. Dan biarkan saya menjalaninya kalo memang itu yang terbaik. Gak perlu sungkan, saya dan kamu sudah menjadi kita. Kita lakukan apa yang terbaik buat kita. Jangan lagi yang terbaik untuk kamu atau yang terbaik untuk saya. Sudah berapa lama kamu mengenal saya? Bukankah sudah lama?


Katakan kalo kamu tidak menyukainya dan saya akan menghargai itu.

Kamu tidak perlu khawatir. Karna saya sudah jatuh hati kepadamu. Hanya saja, saya masih ingin mengujimu. Menikmati saat - saat dimana kehadiran saya selalu kamu perjuangkan. Itu cukup menyenangkan. Dan, kamu gak perlu khawatir. Saya sudah terlanjur ingin membalas perjuangan kamu. Hanya saja, saya masih ingin menikmati saat - saat kehadiran saya selalu kamu nantikan. Biar apa? Biar membuktikan kalau kamu benar sungguhan.


Lalu, kalau saya tanya padamu lagi. Sudah berapa lama kamu mengenal saya? Kamu hanya terdiam. Dan sudah seberapa dalam kamu mengenal pribadi saya? Lalu kamu pergi membiarkan saya sendiri.




Ini khayalanku, mana khayalanmu?

0 komentar


Oke. Nikmatin saja apa yang sedang kamu jalani ini. Mereka hanyalah mereka dan kamu adalah kamu. Yang menjalani seperti apa hidup kamu ini.
Social media memang tempat yang pas banget untuk ajang pamer - pameran. Kenapa gue bilang kaya gitu? Karna gue sering banget di - iri - in sama temen gue yang update apapun itu di social media. Kenapa gue iri? Karna gue gak bisa seperti mereka. Sesimpel itu.

Yah, untuk sekarang gue belum bisa seperti mereka. Yang bisa update lokasi dimana mereka pergi. Yang bisa update tempat makan dimana mereka singgahi. Yang bisa update foto bareng siapapun itu yang backgroundnya bagus banget kaya tai. Apalagi kalo fotonya bareng pasangan mereka. Fix, itu bisa banget bikin gue iri.

Oke. Nikmatin aja dulu hidup gue ini. Yang masih terpaku dengan jadwal dines dari pagi, malem bahkan sampe pagi lagi.
"Suatu saat nanti, gue bukanlah orang yang hanya melihat update-an dari status - status temen gue aja. Tapi gue yang bakal ngepost itu semua. Bukan lagi bersama pacar gue, tapi pria yang sudah sah di hidup gue. Dan gue akan berjalan di pinggir pantai di pulau Bali dengan tangan kanan gue memegang kamera yang gue mau dari dulu dan tangan kanan dia berada di tangan kiri gue. Yang malam gue gak akan pernah kedinginan karna dekapan peluknya mampu mengantarkan tidur gue. Yang lengan kanannya mampu menopang tubuh gue. Yang wangi tubuhnya selalu melekat di hidung gue. Dan ketika suara adzan subuh berkumandang, gue akan membangunkan dia dengan kecupan manja dikeningnya agar dia terbangun dari mimpinya lalu menunaikan sholat subuh bersama gue. Menggelarkan sejadah tepat di depan gue. Dan mengamini apa yang ia panjatkan untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga gue. Setelah itu, membiarkannya melakukan aktivitas apapun itu yang ia suka sedangkan gue sibuk menyiapakan sarapan untuk cadangan energi karna seharian nanti gue dan dia akan disibukkan dengan wisata kemanapun kita mau. Mencoba menyelami keindahan bawah laut bersama dia. Menyinggahi pulau terindah di Negara kita. Mandi di bawah air terjun bersamanya. Berendam di dalam air belerang yang hangat. Menikmati sunset dari atas tebing yang tinggi. Nonton film bioskop kapanpun kita mau. Berpelukan. Yah, kita selalu berpelukan dan bergandengan tangan. Biar apa? Biar romantis. Biar terasa kalo dia mencintai gue dan gue mencintai dia."
Ah, khayalan ini terlalu berlebih - lebihan. Tapi, siapa yang memperdulikan? Biarkan.



I'm fine

0 komentar



Tidak semuanya yang terlihat bahagia didepan orang banyak, seutuhnya dia dalam keadaan bahagia. Buktinya aja beberapa hari ini, gue berada dilingkungan orang yang keliatannya bahagia lahir batin. Ceria. Ketawa. Ngobrol. Bercanda. Semua terlihat biasa aja. Tapi nyatanya....


Nyatanya orang yang terlihat bahagia dihadapan banyak orang adalah orang yang sangat membutuhkan bantuan. Dan kita sebagai temannya hanya bisa membantu. Walaupun hanya sekedar mendengar curhatannya atau memberi sedikit solusi dari masalahnya. Meskipun saran yang kita kasih belum tentu yang terbaik.


Kadang gak abis pikir sama orang yang sukses nyakitin diri sendiri. Mencoba bahagia diatas kesedihannya. Mungkin kalo gue punya 10 jempol bakal gue kasih kesepuluh - sepuluhnya buat dia yang lihai membohongi kejiwaannya. Bayangin aja, dia sanggup cekakakan serasa gak ada masalah. Padahal di dalem hatinya lagi sakit banget. Misal, baru aja diputusin atau ada masalah keluarga. Nice.


Entah apa maksud dan tujuan dari orang yang sanggup nyengir di dalam kondisi hati yang nyinyir. Mungkin kalo bisa gue terawang dan coba gue tebak. Dia hanya gak mau terlihat seperti memiliki beban hidup. Dia hanya mau nunjukin bahwa hidupnya dalam keadaan yang baik - baik aja. Padahal gak dipungkiri, setiap manusia pasti ada masalah hidup. Buktinya aja gue sering banget denger orang yang selalu nyemangati dirinya sendiri ketika dilanda masalah dengan kata - kata "Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya, diluar batas kemampuan hambanya". Nah, dari situ bisa ketauan kalo setiap manusia pasti punya masalah hidup.


Padahal, ketika dia sedang sendiri dan tidak berada dalam keramaian. Satu yang bisa ia lakukan. Hanya menangis. Menangis sendirian. Gak lebih tragis dari menangis semalaman atau menangis dalam kegelapan.


Mungkin  bagi beberapa orang menangis dapat meringankan beban atau bahkan memang sebuah solusi. Tapi menurut gue, kita ini tercipta sebagai makhluk sosial. Saling berinteraksi antara satu individu dengan individu yang lain. Bukan interaksi saat proses jual beli aja. Gak ada salahnya kok minta solusi sama orang yang kita anggap memang pantas buat dengerin curhatan kita dan orang yang kita anggap dapat membantu masalah kita. Bukan orang yang malah nambah - nambahin masalah kita. Tapi jika memang menangis adalah pertolongan pertama pada kegundahgulanaan, maka menangislah sepuas - puasnya. Setelah itu, jangan larut dalam kesedihan. Coba berfikir jernih untuk mencari solusi dari masalah yang kita hadapi. Kalo gue sih, lebih memilih ngegelar sejadah pake mukena. Mulai deh buat curhat sama yang Maha Punya.


Gue sendiri tipe orang yang selalu nangis ketika punya masalah. Jangankan punya masalah, ngedengerin masalah orang aja gue suka nangis. Tapi gue gak melulu larut dalam kesedihan. Mencoba mencari jawaban dari masalah yang gue punya. Dan untungnya gue punya sahabat yang memang dianggap paling bijak memberikan solusi hebat. 


So, tulisan ini gue buat ketika gue tau salah satu rekan kerja gue adalah orang yang lihai dalam menyembunyikan kesedihannya. Nyatanya, dialah orang yang harus gue bantu dalam nenyelesaikan masalahnya. Maaf bukan maksud menggurui



Marmut gue, Marmut aku

0 komentar


Halo, pertengahan bulai Mei.

Ada apa disetengah bulan ini? Gue seperti hidup kembali. Akhir - akhir ini gue ngerasa seperti ada yang aneh dari dalam diri gue. Aneh. Yah terlihat aneh. Mendadak suka melow. Mendadak suka marah. Mendadak suka ngambek. Mendadak melakukan hal - hal aneh yang gak disangka.


Beberapa hari kemarin, gue kedatangan tamu lama. Tamu lama yang kaya marmut. Marmut yang satu ini ngajak gue buat main. Ah main. Satu kata yang selalu menyenangkan. Main kemana aja, walaupun waktu main kita banyak dihabiskan didalam mobil.


Bersama marmut yang satu ini, gue bisa menjadi diri gue sendiri. Bersama marmut yang ini, gue hidup dengan roh gue sendiri. Kalo yang lain nanyanya "mau minum apa? Vanilla late? Moccacino? Cappucino? Orange blossom? Strawberry blitz?" Atau apalah itu. Bersama dia "gak usah sok cantik pake acara minum yang aneh - aneh". Lucu. Ngeselin. Kalo ada yang nanya, gimana sih dengan diri gue? Jawabnya, ketika gue bersama marmut itu. Yah itu lah gue sebenernya.


Marmut tamu ini ngajak gue buat nonton. Lucu. Film yang di tonton "Marmut Merah Jambu". Kapan itu gue nonton talkshow nya Sarah Sechan di Tv, kebetulan bintang tamunya Raditya Dika yang sebagai pemain, penulis sekaligus sutradara dari film tersebut. Sengaja gue tonton akhirnya karna gue adalah salah satu penggemar buku dia. Perbincangan yang mereka ambil adalah promo film Marmut Merah Jambu. Saat itu Sarseh mengajukan pertanyaan penutup ke Radit "jadi apa yang mau kamu sampein dari film ini?". Radit jawab dengan muka marmutnya itu "gue cuma mau, siapapun yang nonton film ini. Ketika film selesai dan lampu bioskop nyala, yang mereka lakukan adalah ngambil hp untuk menghubungi kembali cinta pertamanya". Lucu. Gue malah nonton sama cinta pertama gue. Walaupun udah gak ada artinya sih. Kalo aja gue bisa ketemu Radit, gue cuma mau bilang "lo berhasil".


Lalu, bagaimana dengan marmut aku yang dulu? Sial. Aku sudah mulai melupakan. Sorry, bukan maksud menghindar. Cumannya, kamu yang notabennya marmut aku terlalu sibuk diluar sana dengan pekerjaan kamu. Dengan semua aktivitas kamu. Kamu lupa dengan aku? Menyuruh aku untuk makan atau sholatpun enggan. Kamu, marmut aku terlalu sibuk. Ada yang bilang "jadi orang jangan terlalu sibuk. Ngurus orang lain bisa, tapi ngurus dirinya sendiri gak bisa". Yah, aku mencoba untuk tidak lagi menjadi orang yang terlalu sibuk. Aku mencoba untuk memulai lagi menata jadwal makan diwaktu yang tepat. Aku mulai menata jadwal lagi untuk sholat diwaktunya, tidak mengulur - ngulur. Saat aku sudah berhasil, tanpa kamu suruhpun semua akan aku lakukan. Hanya saja aku masih baru memulai. Bagaimana kalau suatu saat nanti kamu benar - benar aku lupakan? Gak mau kan? Bagaimana kalau handphone aku berdering hanya karna panggilan dari marmut yang menjadi tamu itu? Bukan marmut yang aku punya? Tapi nyatanya itu sudah terjadi. Kamu, marmut aku terlalu sibuk.


Tapi, nyatanya tamu lama gue akan segera pulang. Hey, marmut yang sudah menjadikan gue apa adanya. Hati - hati di jalan!! Beberapa hari kemarin cukup menyenangkan.