Marmut gue, Marmut aku



Halo, pertengahan bulai Mei.

Ada apa disetengah bulan ini? Gue seperti hidup kembali. Akhir - akhir ini gue ngerasa seperti ada yang aneh dari dalam diri gue. Aneh. Yah terlihat aneh. Mendadak suka melow. Mendadak suka marah. Mendadak suka ngambek. Mendadak melakukan hal - hal aneh yang gak disangka.


Beberapa hari kemarin, gue kedatangan tamu lama. Tamu lama yang kaya marmut. Marmut yang satu ini ngajak gue buat main. Ah main. Satu kata yang selalu menyenangkan. Main kemana aja, walaupun waktu main kita banyak dihabiskan didalam mobil.


Bersama marmut yang satu ini, gue bisa menjadi diri gue sendiri. Bersama marmut yang ini, gue hidup dengan roh gue sendiri. Kalo yang lain nanyanya "mau minum apa? Vanilla late? Moccacino? Cappucino? Orange blossom? Strawberry blitz?" Atau apalah itu. Bersama dia "gak usah sok cantik pake acara minum yang aneh - aneh". Lucu. Ngeselin. Kalo ada yang nanya, gimana sih dengan diri gue? Jawabnya, ketika gue bersama marmut itu. Yah itu lah gue sebenernya.


Marmut tamu ini ngajak gue buat nonton. Lucu. Film yang di tonton "Marmut Merah Jambu". Kapan itu gue nonton talkshow nya Sarah Sechan di Tv, kebetulan bintang tamunya Raditya Dika yang sebagai pemain, penulis sekaligus sutradara dari film tersebut. Sengaja gue tonton akhirnya karna gue adalah salah satu penggemar buku dia. Perbincangan yang mereka ambil adalah promo film Marmut Merah Jambu. Saat itu Sarseh mengajukan pertanyaan penutup ke Radit "jadi apa yang mau kamu sampein dari film ini?". Radit jawab dengan muka marmutnya itu "gue cuma mau, siapapun yang nonton film ini. Ketika film selesai dan lampu bioskop nyala, yang mereka lakukan adalah ngambil hp untuk menghubungi kembali cinta pertamanya". Lucu. Gue malah nonton sama cinta pertama gue. Walaupun udah gak ada artinya sih. Kalo aja gue bisa ketemu Radit, gue cuma mau bilang "lo berhasil".


Lalu, bagaimana dengan marmut aku yang dulu? Sial. Aku sudah mulai melupakan. Sorry, bukan maksud menghindar. Cumannya, kamu yang notabennya marmut aku terlalu sibuk diluar sana dengan pekerjaan kamu. Dengan semua aktivitas kamu. Kamu lupa dengan aku? Menyuruh aku untuk makan atau sholatpun enggan. Kamu, marmut aku terlalu sibuk. Ada yang bilang "jadi orang jangan terlalu sibuk. Ngurus orang lain bisa, tapi ngurus dirinya sendiri gak bisa". Yah, aku mencoba untuk tidak lagi menjadi orang yang terlalu sibuk. Aku mencoba untuk memulai lagi menata jadwal makan diwaktu yang tepat. Aku mulai menata jadwal lagi untuk sholat diwaktunya, tidak mengulur - ngulur. Saat aku sudah berhasil, tanpa kamu suruhpun semua akan aku lakukan. Hanya saja aku masih baru memulai. Bagaimana kalau suatu saat nanti kamu benar - benar aku lupakan? Gak mau kan? Bagaimana kalau handphone aku berdering hanya karna panggilan dari marmut yang menjadi tamu itu? Bukan marmut yang aku punya? Tapi nyatanya itu sudah terjadi. Kamu, marmut aku terlalu sibuk.


Tapi, nyatanya tamu lama gue akan segera pulang. Hey, marmut yang sudah menjadikan gue apa adanya. Hati - hati di jalan!! Beberapa hari kemarin cukup menyenangkan.



0 Response to "Marmut gue, Marmut aku"

Posting Komentar