Apalah arti 22 - 26

0 komentar

Lihatlah!! Pelajari!!

Bagaimana aku berada diantara teman - temanmu. Dan bagaimana kamu berada diantara teman - teman aku.

Bagaimana aku memperlakukanmu saat berada diantara teman - teman aku. Dan bagaimana kamu memperlakukan aku saat berada diantara teman - temanmu.

Kita terpaut usia yang jauh. Bagaimanapun kita harus saling menempatkan, memposisikan dan saling toleransi.

Aku yang bisa tampak menjadi wanita dewasa ketika bersama temanmu. Karna bagaimanapun juga kamu dan temanmu berada diseusianya. Aku harus bisa menyeimbangkan.

Dan kamu yang bisa tampak sangat bocah ketika bersama teman aku. Karna bagaimanpun juga aku dan teman aku berada diseusia kami. Kamu harus bisa menyeimbangkan.

Kita terpaut usia yang jauh. Tapi tidak akan menjadi masalah jika kita saling toleransi. Semoga tidak akan pernah ada masalah yang berarti. Dan kita bisa berjuang mempertahankan hubungan baik ini.

Aku mau ngutip kata - kata dari sahabat kamu. Aku suka dengan cara persahabatan kalian.

"Melayani suami itu nikmat"
Ini kata temanmu yang sangat humble dan terlihat sangat bersahabat. Perkenalan kita pertama kali yang memberi kesan yang baik. Bersama anaknya yang dia pangku sambil memberikan dot susu dimulut 'zihan'.

"Buruan dihalalin cuk. Calon udah ada cuk"
Ini kata temanmu yang katanya setiap malem minggu cuma nonton bola aja dirumah. Sambil nyetir mobil bergurau dan nyanyi - nyanyi.

Untuk pertama kalinya. Aku berada diantara teman - temanmu. Untuk pertama kalinya aku dikenalkan dengan teman mainmu. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat diterima. Thank you. Titik dua tanda bintang buat kamu

Muka merah

0 komentar

Kadang ingin menjauh. Biar dia tau gimana rasanya kehilangan.

Saya hanya ingin di 'saya' kan. Saya hanya ingin di spesialkan dan saya akan spesialkan dia. Saya hanya ingin diperjuangkan dan saya akan memperjuangkan yang lebih dari dia kira. Saya hanya ingin diperhatikan dan saya akan memperhatikannya lebih dari yang dia tau. Saya hanya ingin tidak ada yang berubah karna saya tidak akan pernah berubah.

Yah. Kadang saya ingin mengjauh sebentar. Supaya dia tau gimana rasanya kehilangan.

Dan ketika saya menjauh, saya bisa jamin rasa itu tidak akan pernah berubah rasa. Bagaimana dengannya????



Lantas. Manusia yang saya tuju tidak akan pernah membaca postingan ini!!! Percuma dan sia - sia.

Ini hanya posting sampah seorang wanita yang sedang kecewa. Dan ketika kecewa apapun yang dikatakan mohon untuk dapat memaklumkan.

Selamat terlarut dalam mimpi wahai lelaki yang memberi emote muka merah alis melengking di akhir obrolan kita tadi.

INDAH

0 komentar

Tulisan kedua teruntuknya.

Rasa kangen ini sudah menjadi - jadi. Kapan kita bisa ketemu lagi? Setelah kesibukan yang menghalangi, jarak yang sangat jauh tidak bisa dipungkiri.

Indah. Seperti malem - malem sebelumnya. Malem ini gue kangen lagi. Kangen sekangen - kangennya. Terlupakan sejenak karna kesibukkan. Tapi teringat kembali disela kesendirian. Malem ini di atas tempat tidur, kenangan bareng - bareng sama indah melayang - layang ada di ingatan. Semua terasa indah. Indah, malem ini ingin hati berkeluh kesah tertawa lepas atau bicara bisik - bisikan. Begitu banyak cerita gue yang kalo dikasih tau ke indah bakal dibilang ketinggalan jaman. Dan begitu banyak cerita indah yang belum pernah gue tau sekarang. Kita sama - sama ketinggalan jaman. Indah. Gimana kabar? Lebaran kurban kemaren bilangnya mau pulang! Sibuk yah ndah? Atau gak kebagian tiket? Indah. Malem ini gue rindu menggebu - gebu. Semua kenangan yang melayang - layang gak ada satupun yang mengharuskan gue membenci indah. Semua indah. Indah, gue kangen garukan geli yang biasa dilayangkan di punggung ini. Raut wajah flat yang begitu sangat keibuan. Suara lembuh wanita jawa yang penuh santun.

Indah sebenarnya ada yang ingin gue ceritakan?? Karna berkeluh kesah sama indah buat hari gue jadi semakin indah. Kemampuan menjadi pendengar yang baik, kemampuan memberi saran, kemampuan untuk menenangkan. Yah ada di indah. Indah sebenernya gue pengen cerita. Mengizinkan gue sebentar saja dan sedikit saja untuk meneteskan air mata. Indah gue rindu. Tapi ya sudah tak apa. Gue ngerti keadaan ini. Biarlah gue menggelar sejadah dan menceritakan pada-Nya.

Indah. Sudah kurus kah? Atau masih sama? Kurus atau berisi, indah tetep indah yang gue kenal. Yang kalo kurus masih tetap indah. Yang seperti dulupun akan tetap masih indah. Indah, nama indah sungguh indah. Kenangan sama indahpun sangat indah.



DWI NUR INDAH SARI

Nawaitu

0 komentar

Hai jagat raya.........

Hai semesta..........

Hai juga yang sedang gundah gulana.........

Atau hai yang sedang merasakan rindu didada.........

Akan ada sedih di atas kesenangan. Akan ada di bawah setelah berada di atas. Akan ada hitam setelah warnanya putih. Akan ada diam sejenak setelah tertawa lebar berlama - lama. Dan akan ada bad ending setelah sebelumnya merasakan bahagia sebahagia - bahagianya.



Yah. Mau gimana lagi. Namanya juga hidup!!!


Tapi akan kembali pada kata perumpaan kedua jika ada niat memperbaikinya.

Amin

0 komentar

Perjalanan ini sudah semakin jauh. Betapa saya sangat bersyukur atas ini semua. Hubungan ini sudah semakin erat. Betapa saya sangat ingin menyudahinya saja. Menyudahi batasan - batasannya. Dan segera memiliki hubungan tanpa batas.

Saya tidak ingin berlebihan. Menceritakan tentangmu secara berlebihan.

Saya hanya berdoa pada yang Maha Kuasa. Semoga apa yang jalani sekarang diberi keridhoan, selalu dipermudah, Allah merestui jika memang kami berjodoh dan niat baik kami dapat Ia amini. Dan jadikan saya hamba yang ikhlas atas semua takdir-Mu. Karna segala keputusan-Mu adalah yang terbaik bagi-Mu. Dan yang terbaik bagi-Mu adalah yang terbaik bagiku. Amin

Setiap hubungan pasti memiliki guncangan. Jadikan saya, orang yang bersabar dan mampu menghadapi segala hambatan dengan bijak. Dewasakan saya dalam setiap masalah. Perbaiki kembali hubungan kami jika guncangan itu sedang kami hadapi. Jangan jadikan saya menjadi orang yang lemah.



Hubungan ini sudah semakin hebat. Saya bisa membuktikan sebuah keseriusan. Orang tua kami sudah saling mengenal. Dia sudah saya kenalkan pada nenek satu - satunya yang saya punya. Dia sudah saya kenalkan ke sanak saudara di jakarta. Biar mereka tau saya memiliki pasangan yang kenyataannya sangat sayang saya.


Pembicaraan yang saya ingat. Setelah nenek saya berkenalan dengan 'insya allah' calon saya. Dia berkata "calonnya cakep. Jangan lama - lama mumpung nenek masih ada".





Saya selalu meminta berikan yang terbaik bagi-Mu dan terbaik bagiku. Amin

Rasanya aneh

0 komentar

Untuk malam kesekian kalinya saya tidur dengan linangan air mata. Dengan mata yang membengkak. Hidung yang tersumbat. Kepala yang pening dan masalah yang menggantung.

Saya yakin siapapun itu pasti punya masalah hidup. Dan mungkin ketika saya menceritakan masalah hidup pada siapapun. Mereka akan menganggap berlebihan. Saya terlalu membesar -besarkan. Alay. Bocah. Atau bodoh


Yah. Inilah saya apa adanya. Inilah diri saya sebenarnya. Saya terlalu cengeng. Saya terlalu berlebihan. Saya terlalu banyak larangan. Saya terlalu aneh. Dan sangat buruk sekali.

Semoga tidak ada malam - malam selanjutnya yang membuat mata terlalu berat untuk dibuka saat pagi hari. Tidak ada hari - hari yang saya lewati dengan kekesalan yang membuncah tapi tidak dapat dilampiaskan.

Selamat malam dunia. Malam ini rasanya ingin menyudahi saja.

What are you doing guys???

0 komentar


Seperti tidak punya teman.

Akhir - akhir ini gue rasa semua seperti mulai menjauh. Semua seperti mulai punya kepentingannya masing - masing. Semua seperti mulai tidak mau diganggu. Sama halnya dengan gue. Gue akui gue memang sulit ditemui. Karna apa? Karna jadwal kerja gue yang shift - shift an. Tidak seperti kebanyakan teman gue yang lain. Berangkat pagi pulang siang atau sore. Setiap sabtu minggu libur. Lain hal dengan gue. Libur gue ya setelah dines malem. Entah hari senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu atau minggu. Gak pernah tentu.

Mungkin karna itu. Karna gue mulai sulit ditemui. Mereka - mereka males untuk membuat janji dengan gue. Karna sering kali janji yg mereka buat gak pernah cocok dengan jadwal gue. Hasilnya. Yah nihil.

Nah, sekarang gilirannya gue libur. Tepat di hari kamis. Gilirannya gue ngajak ketemu. Tapi apa?? Temen - temen yang gue ajakin gak ada yang bisa. Pada punya urusannya masing - masing. Hasilnya?? Yah seperti biasa tiduran. Tiduran. Tiduran. Nonton tv. Musikan dikamar. Tiduran lagi. Tiduran dan tiduran lagi sambil hapean. Gitu aja. Akhir - akhir ini jadwal liburan gue ya cuma gitu kerjaanya.

Pas gue kerja. Mereka - mereka ngajak ketemu. Dan gue gak bisa. Gitu - gitu aja terus sampe kiamat. Sampe bener - bener ada waktu yang cocok buat bisa ketemu. Gue mulai kehilangan moment main. Mulai kehilangan. Moment ngobrol ngalor ngidul sambil makan cemilan. Sambil jalan - jalan kemanapun. Mulai kehilangan hunting tempat makan. Walaupun yang disinggahi tempat itu lagi itu lagi. Karna bukan tempat makannya tapi kebersamaannya.

Akhir - akhir ini gue bener - bener lagi pengen renang banget. Alhamdulillahnya hampir satu bulan belakangan belum kesampean. Temen renang gue yang biasanya bisa diajak nyebur entah kenapa lagi susah banget buat diajakin renang. Alhasil, renang aja terus didalem mimpi. Sampe bener - bener ada yang mau ikhlas nemenin renang walaupun sebentaran.

Maaf bukannya egois. Cuma mau refresh aja kalo lagi libur. Cuma mau ngelepas semua masalah klinik. Cuma mau ngelupain sejenak tentang masalah pasien. Cuma mau off dulu dari aktivitas yang berhubungan sama dokter. Cuma mau seneng - seneng. Walaupun sebentar. Yah gue paham kalo semuanya akan balik lagi ke rutinitas seperti biasanya. Maka dari itu. Ketika libur cuma pengen punya temen. Itu aja.




Untungnya dimasa - masa sulitnya dapetin temen main. Gue masih punya penolong. Penolong gue dari kesendirian. Hampir saja gue mati bosan. Penolong gue cuma. AGUNG. Dia seorang. Lelaki terkasih gue yang selalu berhasil buat hari gue gak pernah merasa kesepian. Sekian.

AP

0 komentar



Malam ini, aku bahagia sekali. Melihat dua lekaki terkasihku duduk bersama berbincang tentang hal yang serius mengenai aku. Aku rasa aku sudah menemukan. Finally i found someone, to share my live. Aku bahagia. Menyaksikan kamu yang tampak sangat gugup dihadapan ayah aku. Tapi dari raut wajah kegugupan kamu, aku mampu membaca suasana hatimu. Kamu sosok pemberani, berani berhadapan dengan ayah aku. Yang notabennya sosok yang kaku, galak dan serius. 

Detik ini aku berada di dalam kamar. Membiarkan kamu sendiri untuk berbincang dengan ayah aku. Dari kejauhan aku mendengarkan sayup - sayup perbincangan yang asyik kalian obrolkan. Aku sangat bahagia.

Moment ini moment teristimewa selama hidup aku. Telah ada lelaki yang sanggup menghadapi ayah aku. yaitu kamu.


Semoga kita BERJODOH. Aku selalu berdoa semoga Allah meridhai hubungan ini. Kita punya niat baik. Niat baik insya allah berujung baik. itu kan yang kamu bilang?

I'm so lucky. Aku sosok yang sangat acak - acakan ditemukan dengan kamu yang sangat peduli dengan kerapihan. Aku yang sangat cuek ditemukan dengan kamu yang sangat perhatian. Aku yang tidak pernah romantis sama sekali ditemukan dengan kamu yang sangat romantis. Aku yang sangat kasar ditemukan dengan kamu yang lemah lembut. Terkadang aku masih suka malas - malasan untuk beribadah dan aku ditemukan denganmu yang selalu mengingatkan. Ketika marahpun kamu tidak pernah menggunakan cara yang kampungan. Kamu galak. Tapi tau batasan. Kamu lembut. Tapi aku takut ketika kamu sudah marah. Aku mulai memperhatiakan segala detail di diri aku. Aku selalu ingin buat kamu nyaman.


Yah. Aku masih didalam kamar. Masih mendengar remang - remang suara paraumu berbincang dengan si kumis tebal. Kamu tau? Bagaimana caranya aku bisa menggambarkan rasa bahagiaku ini? malam ini? Aku sangat bahagia.


Bagaimanpun masa lalumu. Seperti apa kamu terdahulu. Bagaimana dengan backgroundmu. Aku sudah menerima itu. 


Barusan saja kamu memberi pesan singkat padaku. Menyuruhku keluar kamar untuk menemanimu. Aku faham, mungkin obrolan kalian sudah stak. Dan kamu yang tidak banyak bicara, mungkin hanya membalas dari pertanyaan ayahku saja. Kamu harus tau ini "ayah gak bisa nuntut banyak kalo ternyata dia orangnya tidak banyak bicara. Jangan sungkan sama ayah." Itu kata - kata ayah aku buat kamu. Dia sudah menerima kamu seperti apa adanya. Yah, aku rasa pribadimu hampir sama dengan pribadi ayahku.


Baiklah, tulisan ini akan aku cukupkan. Aku akan keluar dari kamar dan menemaimu berhadapan dengan ayah aku. Malam ini aku bahagia.




Oh iya satu lagi yang ingin aku sampaikan. Khusus buat kamu. Kita hidup pasti memiliki masalalu. Aku dengan masalalu aku dan kamu dengan masalalu kamu. Entah pait atau manis, pasti kita pernah merasakan. 


Buat semua yang baca tulisan ini. Kalian pasti sayang saya. Saya sudah bahagia dan saya rasa saya sudah menemukan. Jadilah teman saya sebaik mungkin. Berlakulah sebagaimana batas pertemanan. Dengan segala hormat saya kenalkan pasangan saya yang sudah bertahun - tahun saya tunggu. Kenalkan......






AGUNG PURNOMO USODO


Jadi gini rasanya

0 komentar
Oh rasanya seperti ini.

Gue rindu mereka. Rindu banget. Jadi gini kalo satu sama lain saling punya kesibukan masing - masing. Bagaimana kabar mereka? Bahkan kita jarang bertegur sapa. Walaupun via sms, bbm, whats app atau via apalah. Kita hanya bertegur sapa kalau kita mau. Kalau kita lagi inget. Kalau rasa rindunya mungkin sudah membuncah. Yah, kita memang seperti ini. Saling gengsi - gengsi. Sekangen - kangennya pun, kalo ketemu gak pernah tuh ada peluk mesra. Cipika cipiki (kecuali uwi). Bilang kalimat romantis yang ngejijiin banget "Gue kangen sama lo. Kemana sih gak pernah ada kabar. Gue kan rindu berat. Lo gak tau setiap malem gue mimpiin lo lo pada. Karna apa? Karna gue rindu lo lo semua". Asli drama abis. Yeak


-Dwi Nur Febriani (uwi)-
Gue tau wi lo sibuk kuliah. Lo sibuk skipsi. Lo udah mau wisuda. Mungkin sekarang lo lagi ngapal ayat - ayat Al - Qur'an buat ujian AIKA lo. Kalo jaman kita kuliah dulu mungkin LK. Bener gak gue? Salah yah. Bomat. Anak Pak Joko satu ini yang paling so sweat di antara kita. Yang paling mau di peluk. Yang paling mau di cium. Ih. Gimana kabar Pak Joko? Sehat kah? Kangen gue.


-Ellvira Rosiana Kartikasari (pacitan)-
Entahlah ejaan nama lo bener gak tuh!! Nama lo yang paling kaya putri kraton. Ini makhluk satu aliran sama uwi. Gue tau lo lagi sibuk kuliah juga pac. Lagi nyekripsi juga. Gue sih gak yakin kalo lo ngapal ayat - ayat al - qur'an buat ujian AIKA lo itu. Paling lo doping lagi. Kaya dulu - dulu. Kapan lo mudik? Gue mau nitip dong!!


-Elsa Pratama Yuliani (echa)-
Si mantan bidan yang gagal jadi calon polisi ini yang paling deket rumahnya sama gue. Dia ini masih suka maen kerumah kalo gue lagi libur dines. Cuma kadang - kadang. Dimasa - masa frustasinya ketika gagal jadi polisi dia berusaha menghibur diri. Ngayap sendirian ke Bandung. Gue sih salut sama wanita yang kaya pria satu ini. Walaupun gagal, setidaknya dia berani untuk mencoba. Karna lebih baik gagal saat sudah mencoba daripada hopeless dari awal. Karna dia gagal, dia frustasi. Karna frustasi, dia ke Bandung. Karna dia ke Bandung, gue nitip jackets levi's yang keren. Kan jadi ada hikmahnya kan. Thank you. Oh iya dia udah pake jilbab lagi. Good


-Isna Aulia Karinda (karin)-
Yang ini calon pengusaha. Kerjaannya ke tanah abang. Ada di pasar buka toko. Promosiin pasmina yang kece. Cita - citanya buka butik dengan brand sendiri. Amin. Kalo tau bakal kaya gini ngapain lo kuliah kebidanan pacul. Tapi gak ada yang sia - sia. Siapa tau suatu saat ada bumil yang dateng ke toko lo eh malah partus disana. Kan gak sia - sia kan. Walaupun ujungnya lo tetep manggil bidan senior. Hahaha setidaknya pas kala III lo bisa suntik oksitosin lah yah. Nanti stenengnya pake pasmina yang lo jual di toko. Beuuh. Amal jariyah karin. Dapet pahala banyak lo!!


-Dini Kannia Wulandari (dini)-
Dia sih ibu bidan teladan. Kerjaannya nolong partus di desa. Sabtu minggu gak bisa libur karna ada jadwal imunisasi. Kebayang dong sibuknya kaya apa. Bisa ketemu gue pun kalo lagi ngerujuk ke tempat kerja gue. Itupun jarang banget. Ada kejadian lucu banget sama ibu bidan satu ini. Niatnya sih mau kaya anak gaul gitu. Mau meet up lewat skype. Saking niatnya sampe nginstall skype cuma mau video callan. Padahal memory handphone udah limite banget. Yah niatnya sih abis meet up, skype nya mau langsung di uninstall lagi. Gak taunya. Emang dasar katro. Gue gak ngerti aplikasiinnya. Mau nelponnya aja gak ngerti. Pas udah nyambung. Cuma ada muka gue selebar hp. Suara dini sayup - sayup dari kejauhan. Karna signal suara jadi a e a e. Malem itu gue cuma bisa ketawa tawa doang. Sambil treak treakan "dini muka dini mana kok gak keliatan" si dini cuma ketawa gak karuan. Pas muka dia udah keliatan di layar handphone gue, dia malah clingak clinguk katanya muka gue gak keliatan di layar handphonenya. Sumpah demi apa, ini lucu banget. Norak abis. Dia cuma bilang "pret muka sipret gak ada" hahaha mungkin dia masih berusaha mencari muka gue. Alhasil muka dini berubah jadi kipas angin, rak rak buku, tempat tidur. Hahaha norak. Pengalaman banget kan. Sebelum di ajakin skype-an sama cowo latihan dulu sama dini. Biar gak keliatan norak. Nanti kalo ada yang ngajakin tinggal tolak aja. Bilang gak maen skype. Daripada ketauan norak.


-Dwi Nur Indah Sari (indah)-
Jauuuuuuuuuuuuuuh. Dia paling jauuuuuuuuh. So far away buat nyamperin dia kesana. Keliatannya sih bakal jadi bidan profesional nih. Sering banget ganti dp yang aneh - aneh. Kolem renang tiup buat anak - anak itu. Yang gue tau itu buat teknik water birth. Foto bayi lahir beserta plasentanya yang masih menyatu. Gue tau dia pake teknik lotus birth. Bu bidan bu bidan bagi - bagi pengalaman dong. Ajakin gue kerja di Malang dong ndah. Masih ada peluangkah? Mau nyoba jauh. Biar tau indonesia. Biar bisa maen ke BNS. Biar mau ke jogja deket. Biar bisa tau panasnya Surabaya. Mbak in masihkah sama mas ben?


Jadi gini rasanya rindu. Gue tau kita gak pernah ngungkapin rasa sayang satu sama lain. Biarlah doa yang mengisyaratkan. Gue yakin di dalam diam kita saling mendoakan buat kesuksesan kita semua. Jadi apapun kita kelak. Yakinlah itu sudah yang terbaik. Jangan ada yang saling iri. Uwi sama pacitan mungkin memang sudah ditakdirkan lebih awal punya title yang lebih tinggi dari kita. Dini dan indah yang tangannya sudah lihai melahirkan bayi. Karin yang bakal jadi pengusaha besar. Echa yang mungkin akan balik lagi di dunia kesehatan. Dan gue yang masih ngecrotin jelly atau jadi asisten dokter buat nangkep bayi. Kita sudah pada garisnya masing masing. Apapun bentuk kalian gue bangga punya temen kaya gini. Yang gak pernah munafik. Yang bilang gak suka kalo emang gak suka. Yang bilang jelek kalo emang jelek. Yang kalo ngelarang "jangan gitu bego, elo nanti rugi" dan gak pernah marah. Mungkin waktu seperti dulu gak mudah bisa kita rasain lagi. Jalan - jalan bareng kemanapun. Ngumpul gak tau waktu. Ngobrol ngalor ngidul. Kita sudah sama - sama sibuk. Tapi gue bangga, itu artinya kita masih punya tanggung jawab. Entahlah kosa kata gue jadi gak karuan. Gue sih sedih bikin tulisan ini. Karna gue tau, gak semudah membalikkan tepak tangan buat nentuin jadwal temu kangen kita. Mungkin nantinya akan ada saja yang gak bisa hadir. Mungkin saja gue. Mungkin ketika kalian temu kangen nanti, gue sedang pegang sim untuk asistenin dokter curet. Pokonya kita tetep harus jadwalin buka puasa bareng yah!! Udah ah segitu aja. Nanti gue tambah sedih. Sorry banget tulisan ini gue buat dengan sangat berantakan. Karna gue tulis lewat handphone bukan dari laptop. Karna sudah terlalu kebelet buat cerita tentang kalian ketika gue bener - bener ngerasa kangen banget. Gak mau nunda - nunda lagi. Setelah ini gue akan narik nama kalian lewat twitter dan path. Biar kalian tau postingan ini.
Salam kebodohan



When i'm tired

0 komentar


Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?
Hidup memang pilihan. Saya sudah memilih untuk bekerja mencari pengalaman setelah saya lulus dari bangku perkuliahan. Sebagian teman saya banyak yang memilih untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, sebagian teman yang lain ada yang lebih memilih untuk mencari pengalaman kerja. Termasuk saya. Alasannya berbeda - beda.


Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?

Hampir sembilan bulan saya bekerja. Apa yang sudah saya dapatkan? Nyatanya saya masih harus banyak belajar. Ketika ada kasus - kasus tertentu, saya masih harus buka buku, browsing di internet atau bertanya pada senior. Saya masih harus banyak belajar. Pilihan untuk terus mencari ilmu sampai setinggi - tingginya memang benar. Saya bisa rasakan itu. Otak saya masih belum sampai untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan pasien yang begitu kritis. Kadang, kehadiran dokter masih saya butuhkan.


Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?


Yah. Saya bekerja dengan atasan yang sangat perfectionist. Selalu menuntut kesempurnaan. Beliau tidak ingin karyawannya banyak alasan. Saya bekerja dengan dokter yang sangat pandai. Memiliki ilmu komunikasi terapeutik yang baik. Cerdas dan cerdik. Yah. Dialah dokter atasan saya. Dihampir sembilan bulan ini, apa yang sudah saya dapatkan?

Saya banyak makan hati dengannya. Saya banyak tidak dihargai dengannya. Sering kali, kesalahan yang bukan saya lakukan imbasnya saya yang kena omelan. Sering kali sholat saya diburu - buru karna ruang praktek tidak ada yang jaga. Jadwal makan saya yang menjadi tidak beraturan. Saya mulai kehilangan satu persatu moment bersama keluarga. Waktu main saya yang tidak pernah merasa bebas. Ketika liburpun sering kali ditelfon untuk urusan klinik. Atau jadwal libur yang harus kepending gara - gara menggantikan dines teman yang sakit. Saya dituntut untuk berpenampilan menarik. Saya tidak lagi mengenal alat dopller, karna di tempat saya kerja sudah menggunakan alat CTG. Saya tidak lagi menggunakan lampu 60 watt dengan jarak 60 cm untuk pemanas bayi, karna di tempat saya kerja sudah menggunakan infant warmer. Saya tidak lagi harus bulak - balik mengobservasi tanda - tanda vital pasien setiap satu jam sekali, karna di tempat saya kerja pasien observasi sudah menggunakan alat monitoring. Ketika saya infus pasien, tidak lagi menggunakan aboket karna di tempat saya kerja sudah menggunakan venplon. Saya tidak lagi harus palpasi pada ibu hamil karna saya dikenalkan dengan alat USG. Saya tidak lagi mengenal alur rujukan, karna di tempat saya kerja adalah klinik yang memiliki ruang operasi dengan alat yang memadai. Jika pasien inpartu yang gagal partus normal dan harus di operasi bisa langsung segera dilakukan tindakan. Lalu di hampir sembilan bulan saya bekerja, apa yang sudah saya dapatkan?


Dan ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?


Diam. Saya terdiam. Saya merenung. Saya mulai mengingat - ingat kembali masa dimana saya setiap harinya hanya disibukkan ke tempat fotocopian. Membawa map ijazah beserta berkas - berkas yang saya punya. Masa dimana saya menghabiskan ratusan ribu hanya untuk mengcopi berkas tersebut untuk selanjutnya saya sebar ke tempat yang mungkin akan menjadi tempat kerja saya nantinya. Masa dimana saya hanya diam dirumah, nonton acara televisi yang mulai saya hafal jadwal tayangnya. Masa dimana kerjaan saya hanya menanti panggilan nomer tak dikenal yang masuk ke dalam handphone saya. Masa dimana saya selalu berkhayal disepanjang malam. Berharap ada kesibukan yang akan saya dapat untuk mengisi kekosongan hari - hari saya. Ah, masa - masa itu memang menyakitkan dan saya tidak ingin merasakannya lagi.


Lalu setelah semuanya saya dapatkan, apalagi yang harus dikeluhkan?


Saya mulai mengeluh ditengah kesibukan yang saya dapatkan yang dulu saya impikan. Mungkin Tuhan bosan mendengar setiap hari rengekan saya yang begitu cengeng.


Saya hanya ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Nyatanya saya sudah banyak melupakan Dia. Saya sudah jarang sekali membaca pedoman hidup saya. Saya sudah jarang sekali duduk berlama - lama untuk memohon kepada-Nya. Saya sudah jarang sekali menundukan kepala di akhir sholat saya. Saya mulai melupakan-Nya.


Di sore ini setelah saya menunaikan sholat ashar, mengadu apa yang ingin saya adukan padaNya. Bersimpuh diatas sajadah yang begitu hangat. Saya merasakan ketenangan. Saya merasakan begitu tentram. Saya merasakan ada yang damai. Saya mulai ikhlas, saya ikhlas atas kenikmatan yang Tuhan beri pada saya. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk selalu sabar. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk berbicara lemah lembut. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk menenangkan pasien  yang begitu cemas. Tanpa disadari, saya mulai terlatih untuk saling menghormati dengan sesama rekan kerja. Tanpa disadari, saya mulai terlatih komunikasi terapeutik ke pasien dengan baik. Tanpa disadari, saya mulai terlatih menggunakan alat USG 4 Dimensi. Tanpa disadari, saya hafal obat - obatan khusus ibu hamil yang biasa diresepkan dokter. Tanpa disadari sudah berapa bayi yang saya pegang pertama kali setelah ia lahir ke bumi. Tanpa disadari sudah berapa bayi yang saya mandikan di setiap pagi. Tanpa disadari, saya mulai terlatih memasukan jarum suntik ke vena langsung. Tanpa disadari, saya mampu memberikan asuhan pada pasien yang mengalami infeksi luka operasi. Tanpa disadari, perawatan luka yang saya lakukan sampai pada keadaan pulih total. Tanpa disadari, saya mengetahui kasus kebidanan yang begitu kompleks yang dulu ketika saya kuliah tidak pernah dikenalkan. Tanpa disadari, saya mampu bekerja sangat cekatan. Tanpa disadari, lingkungan kerja saya bersama dokter - dokter spesialis hebat yang mungkin nantinya saya bisa saja dibantu mereka. Tanpa disadari, saya mulai memperhatikan penampilan saya. Tanpa disadari, saya mulai mengenal alat - alat make up. Tanpa disadari, saya mampu berhias wajah sendiri. Tanpa disadari, saya mampu menggunakan sepatu berhak tinggi. Tanpa disadari, penampilan saya berubah menjadi sangat feminim. Tanpa disadari, saya terbiasa dengan alat - alat kebidanan yang canggih. Tanpa disadari, saya mampu mengaplikasikannya.


Ternyata di hampir sembilan bulan saya bekerja, sudah banyak yang saya dapatkan. Lalu, apa yang kurang? Lalu, apa yang dikeluhkan?

Lelah.

Saya hanya merasakan itu.

Ketika saya lelah, apa yang bisa saya lakukan?

Diam.

Lalu tidur.

Hanya itu yang saya butuhkan. Setelah itu saya akan pulih kembali. Dan saya akan bersemangat kembali.
Sampai saat ini saya masih bangga menggunakan seragam kerja yang setiap harinya saya pakai. Ketika saya mengingat kembali proses mendapatkannya, saya hanya bisa tersenyum dan bersyukur. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti saya. Masih banyak lulusan kebidanan yang berharap lebih ditempat saya kerja. Dan saya sudah mendapatkannya. Maaf kalau selama ini saya hanya bisa mengeluh, karna saya hanya ingin tidur.



KASAR

0 komentar



Kasar. Tangannya makin kasar.

Sudah berapa lama saya tidak pernah mencium tangannya? Sudah berapa lama saya tidak lagi bercengkrama dengannya. Bukan. Bukan. Bukan bercengkrama. Tepatnya mendengarkan petuahnya. Ah, rasanya sudah begitu lama saya tidak pernah duduk berlama - lama dengannya. Duduk berlama - lama tanpa harus ada yang bicara. Iya. Saya dan dia memang suka seperti itu. Percaya atau tidak, saya pernah menemani dia melakukan perjalanan ke jakarta. Disepanjang jalan di mobil, kita tidak ngobrol apa - apa. Tidak ada topik yang bisa membuka obrolan kita. Cilegon - jakarta, saya dan dia hanya diam saja. Dia yang tetap fokus dengan jalan dan saya yang fokus menikmati perjalanan. Sekaku itu saya dengannya. Setakut itu saya dengannya. Sebegitunya saya menghormati dia.


Kasar. Tangannya makin kasar.

Mungkin karna batu bata yang terlalu banyak dia susun untuk membangun rumah kita. Mungkin karna adonan semen yang terlalu sering dia aduk untuk mengokohkan rumah kita. Mungkin karna mesin - mesin baja yang dia atur di tempat kerjanya.


Kasar. Tangannya semakin kasar.

Entah apa yang membuat keadaan seperti ini. Sudah jarang sekali saya mencium tangannya. Ketika saya berangkat kerja, dia belum ada dirumah. Ketika dia pulang kerja, saya sudah tertidur atau bahkan saya sedang tidur bukan dikamar yang dia bangun untuk saya. Bisa jadi, saya sedang tidur di tempat kerja karna sedang bertugas malam. Ketika pagi saya pulang, sering kali saya melihat dia sedang tertidur pulas mungkin lelah dengan aktivitasnya. Hingga akhirnya, tangannya semakin kasarpun saya telat mengetahuinya.


Kasar. Tangannya saya rasakan semakin kasar.

Jahat sekali saya. Beberapa minggu yang lalu, dia memohon - mohon pada saya untuk sedikit meluangkan waktu. Meminta saya pergi bersama mengunjungi nenek saya satu - satunya yang masih ada. Satu - satunya. Saya sudah tidak lagi punya kakek atau nenek selain nenek yang bertahan hidup di desa. Sendirian. Dan beliau adalah ibu dari manusia yang tangan makin kasar ini.


Sampai akhirnya. Pulang kerja tadi ketika saya sedang memejamkan mata sejenak di atas tempat tidur yang begitu nyaman, handphone saya berdering beberapa kali dan suara wanita sepuh yang sangat khas itu memecahkan rasa kantuk saya. Gila, berdosa sekali saya yang ternyata sang pria yang tangannya makin kasar ini berangkat juga menjenguk ibunya di desa. Tentunya tanpa saya. Anak yang terlalu  beralasan banyak untuk mengiyakan permohonan ayahnya. Bukan tidak mau. Tapi saya tidak bisa. Jadwal libur saya yang susah sekali dicocokkan dengan jadwal liburnya. Saya hanya bisa ngobrol dengan nenek saya dari telfon saja, ternyata khayalan saya untuk bercerita banyak masih harus tersimpan manis di imajinasi saya. Karna di batasi pulsa dan signal disana yang naik turun.


Tangannya kasar. Mungkin akan makin kasar.

Sampai sekarang dia masih menjadi sosok yang sangat saya takuti. Saya takut untuk bercerita tentang masalah hidup saya, saya takut bercerita tentang masalah kerjaan saya, saya takut bercerita tentang kehidupan percintaan saya. Karna apa? Karna dia begitu tidak asik untuk menjadi ayah yang bisa berubah menjadi teman untuk anak - anaknya. Dia sangat tidak asik. Begitu saya mengeluh, dia hamya mengingatkan saya kalau saya masih punya Tuhan dan Al - Qur'an masih menjadi kitab suci saya. Katanya "gak ada yang harus diragukan. Kalo Al - Qur'an udah melarang ya jangan. Kalo Al - Qur'an memang memperbolehkan ya lakukan". Sebegitu tidak asiknya dia. Bahkan walaupun saya tidak pernah menceritakan masalah saya, bisa - bisanya dia tau. Entahlah dari mana. Dia jarang sekali ngomong, ketika menasehati sayapun kalo dia lagi gak mau ngomong ya dia tidak ngomong, yang dilakukan adalah : buka youtube searching ceramah Aa Gym dia pilih tema apa yang ingin ia sampaikan pada saya, dipasang sound dengan volume yang cukup besar sebisa mungkin suara Aa Gym masuk ketelinga saya walaupun saya berada di dalam kamar, walaupun saya sedang menggunakan headset. Sebegitu tidak asiknya dia. Baju yang paling nyaman yang ia kenakan adalah baju koko. Karna apa? Karna baju itu yang paling pantas untuk masuk ke dalam masjid, menurut versinya. Baju - baju pemberian sayapun jarang sekali ia pakai. Katanya terlalu mewah, dipakenya tidak pantas. Ah, dia begitu kaku. Itu sebabnya saya mulai males memberikan barang untuknya. Dia terlalu sederhana, bahkan mungkin terlihat seperti orang yang tidak punya. Topi yang paling nyaman menurut versinya ya cuma peci.


Malam ini dia berada jauh dengan saya. Saya dirumah bersama ibu dan adik - adik saya sedangkan dia mungkin sedang bermanja - manja dengan ibunya disana. Sukabumi memang kota selalu nagih untuk didatanginya lagi. Mungkin sekarang dia sedang makan singkong goreng hasil berkebun sore tadi bersama ibunya. Duduk - duduk diteras ditemani kopi yang dibuatkan ibunya. Bukan lagi buatan saya. Mungkin dia sedang menceritakan tentang saya pada ibunya. Betapa malunya dia memiliki anak seperti saya, yang berat sekali untuk diajak nengok neneknya.


Tangannya kasar. Iya. Kasar.

Seperti apapun ayah saya, saya sangat sayang dengannya. Pengorbanannya membangun rumah tanpa bantuan siapapun, demi siapa? Demi saya yang ia janjikan untuk membuat istana di lantai 2 karna saya memilih kuliah tidak jauh dari mereka. Mungkin saja saat itu saya bisa kuliah di Malang, Surabaya atau di Jogja, cumannya orang tua saya yang terlalu berat untuk mengiyakan pilihan saya. Saya sayang sekali dengannya. Uang yang ia keluarkan demi keperluan saya. Kini sudah saatnya saya tidak lagi meminta uangnya. Biarlah uang yang seharusnya jatah saya diberikan untuk adik - adik saya. Saya terlalu amat sangat menyayanginya. Saya tidak pernah sekalipun mengatakan kalimat tadi padanya. Mungkin saja dia tidak pernah tau sebegininya saya mengagumi sosoknya. Saya dan dia terlalu sungkan untuk menyatakan rasa sayang. Biarlah doa yang mengisyaratkan dari setiap rasa sayang saya padanya.


Saya terlalu amat sangat menyanyanginya. Sebegitu tidak asiknya dia, masih saja mampu menjadi orang yang selalu saya sebut di dalam doa. Saya begitu mencintainya. Sebegitu kakunya dia, ternyata saya mulai terbiasa dan mulai nyaman mendengarkan ceramah Aa Gym yang biasa ia setel untuk menyindir saya. Ternyata baju koko memang membuat dia terlihat makin tampan menurut versi saya. Ternyata peci yang sering ia pakai memang mampu menutupi uban dirambutnya. Ah, begitu panjang cerita tentang dia. Terlalu kurang ajar, kalau saya jelek - jelekan dia lalu semena - mena membanggakannya.


Yah, tangan ayah saya memang semakin kasar. Dan saya mulai jarang merasakannya. Tapi, dari kekasaran tangannya itu ingin menjelaskan pada saya bahwa hidup ini keras dan kasar. Kita harus mampu menempuhnya. Biarlah tangan kita menjadi kasar, semakin kasar semakin membuktikan kalau kita sanggup mejalaninya.



Love Pak Hendar




Kalo bersama

0 komentar




"Kalo lo bersama gue, lo gak akan pernah keujanan. Lo akan menjadi diri lo sendiri. Lo akan selalu tertawa bersama gue. Lo akan selalu galak dengan gue, tapi dibalik itu lo begitu memperhatikan gue. Kalo lo bersama gue, berangkat dan pulang kerja lo gak akan pernah sendiri. Lo gak lagi merasa ketakutan karna pulang terlalu malam, karna gue bersedia melindungi lo dan gue gak akan membiarkan lo ketakutan. Kalo lo bersama gue, gue akan berusaha supaya penyakit maag lo gak akan kambuh. Mengajak lo makan diwaktu yang tepat dengan menu yang bergizi. Kalo lo bersama gue, lo akan selalu terlihat awet muda karna hidup lo selalu bahagia"









"Kalo kamu bersama aku, kamu memiliki pasangan yang dunia kerjanya yang kamu mau. Kamu juga akan selalu aku jemput ke tempat kerja kamu walaupun hanya dengan motor saja. Mungkin kamu bisa kehujanan. Tapi kita berteduh, itu kan moment yang kamu suka. Berteduh saat hujan. Saat bersama aku. Romantis kan? Kalo kamu bersama aku, kamu punya pasangan yang memiliki pendidikan tinggi karna sampai kapanpun aku akan selalu haus akan ilmu. Mungkin kamu akan jarang sekali bertemu denganku nantinya, tapi aku lakukan itu demi kamu. Kalo kamu bersama aku, aku akan bawa kamu ke luar Negeri, karna aku punya cita - cita untuk menimba ilmu atau kerja disana. Kalo kamu bersama aku, aku akan selalu mendukung apapun yang bersangkutan dengan dunia kerja kamu. Kalo kamu bersama aku, aku mampu membuatkanmu klinik untuk tempat praktek kamu."






"Kalo kamu bersama abang, abang bawa kamu trafelling kemanapun kamu mau. Abang ajak kamu daki gunung mencari air terjun di dalamnya. Kalo kamu bersama abang, bukan hanya tempat wisata dalam Negeri, wisata luar Negeri akan kita singgahi. Kalo kamu bersama abang, ke luar Negeri bukan untuk menemani seseorang yang sedang menimba ilmu dan kamu hanya diam seharian dirumah. Tapi, menikmati keindahannya. Mencari kuliner tersohor disana. Kalo kamu bersama abang, Karimunjawa, Raja Ampat, Bali, Bangka Belitung, Green Canyon, Semeru, Ranu Kumbolo, Bromo, Gilitrawangan, Lombok bukan hanya di khayalan saja. Kalo kamu bersama abang, kamu gak perlu khawatir abang bakal nyakitin kamu. Karna sebelum kenal kamu abang kenal orang tua kamu dulu."






Kalo kamu bersama mas, kamu boleh dirumah saja. Bukan mas melarang kamu kerja, tapi mas masih sanggup menghidupkan kamu, bertanggungjawab atas kamu. Kalo kamu bersama mas, tutur katamu harus sopan, karna mas terlahir dari keluarga yang mengedepankan tata krama. Kalo kamu bersama mas, kamu akan mas belikan buku bacaan yang kamu mau supaya kamu tidak bosan. Kalo kamu bersama mas, mas gak bisa mengantarmu keliling dunia mencari tempat wisata seperti keinginanmu. Karna uangnya akan mas tabung untuk masa depan kita. Rencana pembuatan masjid di sekitar rumah kita, rencana haji orang tua kita, rencana umroh kita, rencana pembuatan balai pengobatan kita, rencana acara sosial kita dan masih banyak rencana bermanfaat lain yang masih harus kita fikirkan. Terlalu sia - sia kita membuang uang hanya untuk kesenangan sesaat saja. Kalo kamu bersama mas, mungkin nantinya kamu akan jalan bersama mas hanya menggunakan sepeda."







Saya hanya bertanya

0 komentar


Sudah berapa lama kamu mengenal saya?

Bukankah saya kurang suka dengan sesuatu yang tidak pasti? Mau sampai kapan kamu harus selalu mengikuti apa yang menjadi mau saya?

Bilang iya, kalo memang iya. Bilang tidak kalo memang tidak. Jangan bertele - tele. Bukankah kamu tau saya tidak suka yang bertele - tele? Masih belum paham?


Larang saya kalo memang salah. Dan biarkan saya menjalaninya kalo memang itu yang terbaik. Gak perlu sungkan, saya dan kamu sudah menjadi kita. Kita lakukan apa yang terbaik buat kita. Jangan lagi yang terbaik untuk kamu atau yang terbaik untuk saya. Sudah berapa lama kamu mengenal saya? Bukankah sudah lama?


Katakan kalo kamu tidak menyukainya dan saya akan menghargai itu.

Kamu tidak perlu khawatir. Karna saya sudah jatuh hati kepadamu. Hanya saja, saya masih ingin mengujimu. Menikmati saat - saat dimana kehadiran saya selalu kamu perjuangkan. Itu cukup menyenangkan. Dan, kamu gak perlu khawatir. Saya sudah terlanjur ingin membalas perjuangan kamu. Hanya saja, saya masih ingin menikmati saat - saat kehadiran saya selalu kamu nantikan. Biar apa? Biar membuktikan kalau kamu benar sungguhan.


Lalu, kalau saya tanya padamu lagi. Sudah berapa lama kamu mengenal saya? Kamu hanya terdiam. Dan sudah seberapa dalam kamu mengenal pribadi saya? Lalu kamu pergi membiarkan saya sendiri.




Ini khayalanku, mana khayalanmu?

0 komentar


Oke. Nikmatin saja apa yang sedang kamu jalani ini. Mereka hanyalah mereka dan kamu adalah kamu. Yang menjalani seperti apa hidup kamu ini.
Social media memang tempat yang pas banget untuk ajang pamer - pameran. Kenapa gue bilang kaya gitu? Karna gue sering banget di - iri - in sama temen gue yang update apapun itu di social media. Kenapa gue iri? Karna gue gak bisa seperti mereka. Sesimpel itu.

Yah, untuk sekarang gue belum bisa seperti mereka. Yang bisa update lokasi dimana mereka pergi. Yang bisa update tempat makan dimana mereka singgahi. Yang bisa update foto bareng siapapun itu yang backgroundnya bagus banget kaya tai. Apalagi kalo fotonya bareng pasangan mereka. Fix, itu bisa banget bikin gue iri.

Oke. Nikmatin aja dulu hidup gue ini. Yang masih terpaku dengan jadwal dines dari pagi, malem bahkan sampe pagi lagi.
"Suatu saat nanti, gue bukanlah orang yang hanya melihat update-an dari status - status temen gue aja. Tapi gue yang bakal ngepost itu semua. Bukan lagi bersama pacar gue, tapi pria yang sudah sah di hidup gue. Dan gue akan berjalan di pinggir pantai di pulau Bali dengan tangan kanan gue memegang kamera yang gue mau dari dulu dan tangan kanan dia berada di tangan kiri gue. Yang malam gue gak akan pernah kedinginan karna dekapan peluknya mampu mengantarkan tidur gue. Yang lengan kanannya mampu menopang tubuh gue. Yang wangi tubuhnya selalu melekat di hidung gue. Dan ketika suara adzan subuh berkumandang, gue akan membangunkan dia dengan kecupan manja dikeningnya agar dia terbangun dari mimpinya lalu menunaikan sholat subuh bersama gue. Menggelarkan sejadah tepat di depan gue. Dan mengamini apa yang ia panjatkan untuk kebaikan dan kebahagiaan keluarga gue. Setelah itu, membiarkannya melakukan aktivitas apapun itu yang ia suka sedangkan gue sibuk menyiapakan sarapan untuk cadangan energi karna seharian nanti gue dan dia akan disibukkan dengan wisata kemanapun kita mau. Mencoba menyelami keindahan bawah laut bersama dia. Menyinggahi pulau terindah di Negara kita. Mandi di bawah air terjun bersamanya. Berendam di dalam air belerang yang hangat. Menikmati sunset dari atas tebing yang tinggi. Nonton film bioskop kapanpun kita mau. Berpelukan. Yah, kita selalu berpelukan dan bergandengan tangan. Biar apa? Biar romantis. Biar terasa kalo dia mencintai gue dan gue mencintai dia."
Ah, khayalan ini terlalu berlebih - lebihan. Tapi, siapa yang memperdulikan? Biarkan.



I'm fine

0 komentar



Tidak semuanya yang terlihat bahagia didepan orang banyak, seutuhnya dia dalam keadaan bahagia. Buktinya aja beberapa hari ini, gue berada dilingkungan orang yang keliatannya bahagia lahir batin. Ceria. Ketawa. Ngobrol. Bercanda. Semua terlihat biasa aja. Tapi nyatanya....


Nyatanya orang yang terlihat bahagia dihadapan banyak orang adalah orang yang sangat membutuhkan bantuan. Dan kita sebagai temannya hanya bisa membantu. Walaupun hanya sekedar mendengar curhatannya atau memberi sedikit solusi dari masalahnya. Meskipun saran yang kita kasih belum tentu yang terbaik.


Kadang gak abis pikir sama orang yang sukses nyakitin diri sendiri. Mencoba bahagia diatas kesedihannya. Mungkin kalo gue punya 10 jempol bakal gue kasih kesepuluh - sepuluhnya buat dia yang lihai membohongi kejiwaannya. Bayangin aja, dia sanggup cekakakan serasa gak ada masalah. Padahal di dalem hatinya lagi sakit banget. Misal, baru aja diputusin atau ada masalah keluarga. Nice.


Entah apa maksud dan tujuan dari orang yang sanggup nyengir di dalam kondisi hati yang nyinyir. Mungkin kalo bisa gue terawang dan coba gue tebak. Dia hanya gak mau terlihat seperti memiliki beban hidup. Dia hanya mau nunjukin bahwa hidupnya dalam keadaan yang baik - baik aja. Padahal gak dipungkiri, setiap manusia pasti ada masalah hidup. Buktinya aja gue sering banget denger orang yang selalu nyemangati dirinya sendiri ketika dilanda masalah dengan kata - kata "Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya, diluar batas kemampuan hambanya". Nah, dari situ bisa ketauan kalo setiap manusia pasti punya masalah hidup.


Padahal, ketika dia sedang sendiri dan tidak berada dalam keramaian. Satu yang bisa ia lakukan. Hanya menangis. Menangis sendirian. Gak lebih tragis dari menangis semalaman atau menangis dalam kegelapan.


Mungkin  bagi beberapa orang menangis dapat meringankan beban atau bahkan memang sebuah solusi. Tapi menurut gue, kita ini tercipta sebagai makhluk sosial. Saling berinteraksi antara satu individu dengan individu yang lain. Bukan interaksi saat proses jual beli aja. Gak ada salahnya kok minta solusi sama orang yang kita anggap memang pantas buat dengerin curhatan kita dan orang yang kita anggap dapat membantu masalah kita. Bukan orang yang malah nambah - nambahin masalah kita. Tapi jika memang menangis adalah pertolongan pertama pada kegundahgulanaan, maka menangislah sepuas - puasnya. Setelah itu, jangan larut dalam kesedihan. Coba berfikir jernih untuk mencari solusi dari masalah yang kita hadapi. Kalo gue sih, lebih memilih ngegelar sejadah pake mukena. Mulai deh buat curhat sama yang Maha Punya.


Gue sendiri tipe orang yang selalu nangis ketika punya masalah. Jangankan punya masalah, ngedengerin masalah orang aja gue suka nangis. Tapi gue gak melulu larut dalam kesedihan. Mencoba mencari jawaban dari masalah yang gue punya. Dan untungnya gue punya sahabat yang memang dianggap paling bijak memberikan solusi hebat. 


So, tulisan ini gue buat ketika gue tau salah satu rekan kerja gue adalah orang yang lihai dalam menyembunyikan kesedihannya. Nyatanya, dialah orang yang harus gue bantu dalam nenyelesaikan masalahnya. Maaf bukan maksud menggurui



Marmut gue, Marmut aku

0 komentar


Halo, pertengahan bulai Mei.

Ada apa disetengah bulan ini? Gue seperti hidup kembali. Akhir - akhir ini gue ngerasa seperti ada yang aneh dari dalam diri gue. Aneh. Yah terlihat aneh. Mendadak suka melow. Mendadak suka marah. Mendadak suka ngambek. Mendadak melakukan hal - hal aneh yang gak disangka.


Beberapa hari kemarin, gue kedatangan tamu lama. Tamu lama yang kaya marmut. Marmut yang satu ini ngajak gue buat main. Ah main. Satu kata yang selalu menyenangkan. Main kemana aja, walaupun waktu main kita banyak dihabiskan didalam mobil.


Bersama marmut yang satu ini, gue bisa menjadi diri gue sendiri. Bersama marmut yang ini, gue hidup dengan roh gue sendiri. Kalo yang lain nanyanya "mau minum apa? Vanilla late? Moccacino? Cappucino? Orange blossom? Strawberry blitz?" Atau apalah itu. Bersama dia "gak usah sok cantik pake acara minum yang aneh - aneh". Lucu. Ngeselin. Kalo ada yang nanya, gimana sih dengan diri gue? Jawabnya, ketika gue bersama marmut itu. Yah itu lah gue sebenernya.


Marmut tamu ini ngajak gue buat nonton. Lucu. Film yang di tonton "Marmut Merah Jambu". Kapan itu gue nonton talkshow nya Sarah Sechan di Tv, kebetulan bintang tamunya Raditya Dika yang sebagai pemain, penulis sekaligus sutradara dari film tersebut. Sengaja gue tonton akhirnya karna gue adalah salah satu penggemar buku dia. Perbincangan yang mereka ambil adalah promo film Marmut Merah Jambu. Saat itu Sarseh mengajukan pertanyaan penutup ke Radit "jadi apa yang mau kamu sampein dari film ini?". Radit jawab dengan muka marmutnya itu "gue cuma mau, siapapun yang nonton film ini. Ketika film selesai dan lampu bioskop nyala, yang mereka lakukan adalah ngambil hp untuk menghubungi kembali cinta pertamanya". Lucu. Gue malah nonton sama cinta pertama gue. Walaupun udah gak ada artinya sih. Kalo aja gue bisa ketemu Radit, gue cuma mau bilang "lo berhasil".


Lalu, bagaimana dengan marmut aku yang dulu? Sial. Aku sudah mulai melupakan. Sorry, bukan maksud menghindar. Cumannya, kamu yang notabennya marmut aku terlalu sibuk diluar sana dengan pekerjaan kamu. Dengan semua aktivitas kamu. Kamu lupa dengan aku? Menyuruh aku untuk makan atau sholatpun enggan. Kamu, marmut aku terlalu sibuk. Ada yang bilang "jadi orang jangan terlalu sibuk. Ngurus orang lain bisa, tapi ngurus dirinya sendiri gak bisa". Yah, aku mencoba untuk tidak lagi menjadi orang yang terlalu sibuk. Aku mencoba untuk memulai lagi menata jadwal makan diwaktu yang tepat. Aku mulai menata jadwal lagi untuk sholat diwaktunya, tidak mengulur - ngulur. Saat aku sudah berhasil, tanpa kamu suruhpun semua akan aku lakukan. Hanya saja aku masih baru memulai. Bagaimana kalau suatu saat nanti kamu benar - benar aku lupakan? Gak mau kan? Bagaimana kalau handphone aku berdering hanya karna panggilan dari marmut yang menjadi tamu itu? Bukan marmut yang aku punya? Tapi nyatanya itu sudah terjadi. Kamu, marmut aku terlalu sibuk.


Tapi, nyatanya tamu lama gue akan segera pulang. Hey, marmut yang sudah menjadikan gue apa adanya. Hati - hati di jalan!! Beberapa hari kemarin cukup menyenangkan.



Oh.. you

0 komentar
Berakhir sudah keganjalan yang selama ini selalu menghantui benakku.
Aku sudah cukup lega. Setidaknya kamu sudah tau apa yang terjadi dulu. Dan kini kamu tau bagaimana perasaanku dulu.
Menyesal atau tidak, ini semua sudah terlanjur terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Mungkin ini memang sudah jalannya. Jalan kisah kita yang nyatanya dari dulu tak pernah jelas juntrungannya.
Malam itu memang malam yang menyakitkan buat aku. Menjelaskan apa yang sepatut tidak dijelaskan.
Menangis di depan orang yang seharusnya tidak boleh tau bahwa aku ini wanita yang rapuh.
Tapi jika saja malam itu kamu tidak membuka topik perbincangan tentang permasalahan kita dulu. Mungkin saja kita tidak akan pernah tau. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah tau. Dan kita hadir masih dengan tanda tanya itu.
Aku bersyukur. Ini memang hidupku.
Sudahlah, aku sudah cukup berhasil mengikhlaskan. Kini kita bisa menjadi teman.

Brother's mom

0 komentar

"Sipa kelas berapa sekarang?" Tanyanya sambil duduk di samping saya dengan memegang seputung rokok disela jarinya. Saat itu, 13 tahun yang lalu.

"Kelas 4" saya jawab polos

"Oh udah gede, udah kelas 4 sekarang mah. Kalo 6 x 4 berapa hasilnya?" Tanyanya yang buat mati kutu. Saya memang sangat lemah dengan perkalian.

Nyaris cuma dialog itu yang sangat menempel pekat di ingatan saya sampe sekarang. Sampe beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Beliau sosok yang selalu saya takuti ketika kumpul keluarga. Saya takut obrolan yang kita buat adalah mendesak otak saya untuk berfikir tentang perkalian atau mata pelajaran. Beliau memang sangat pintar. Kaka ibu saya yang satu itu memang terkenal dengan kenakalannnya dan kepintarannya. Turunlah sifat pewaris tersebut keanaknya.

Saya selalu takut ketika harus satu meja dengannya beserta anaknya yang sepantaran dengan saya yang nyatanya nakal plus pintar itu. Cuma satu yang buat saya takut. Takut topik yang kami bincangkan adalah topik tentang ilmu pengetahuan.

"Si sipa minum susunya, susu coklat. Pantesan aja kulitnya coklat. Minumnya susu putih, biar kulitnya putih"
Yes of course. Kalimat itu sudah membuat sugesti saya benar nyata adanya. Manusia yang suka minum susu coklat akan berkulit coklat begitu sebaliknya.

Beliau memang jenaka. Sampai terakhir saya bertemupun beliau masih jenaka. Entahlah kapan pertemuan terakhir saya dengannya. Entah lebaran kemarin? Atau lebaran kemarinnya lagi? Saya memang sudah sangat jarang bertemu dengannya.

Dan pertemuan terakhir kita, yah ketika saat itu. Saat saya mengunjungi rumahnya, saat dia sudah terbujur kaku.

And now. Sudah tidak ada lagi yang nyuruh saya berendem di air bayclin supaya putih. Sudah tidak akan ada lagi yang tiba-tiba nanya perkalian. Sudah tidak ada lagi yang datang dari matraman. Sudah tidak akan ada lagi yang bulak-balik sana-sini seperti tidak ada capenya.

Saya sudah mengantarnya pergi ketempat peristirahatan terakhirnya. Semoga amal ibadahnya diterima di sisimu ya allah. Dan di berikan tempat terbaik untuknya. Amin

Saya merasa kehilangan. Karna kabar yang saya terima begitu mendadak. Dan bayangannya masih jelas nyata. Bahkan beberapa kali saya masih memimpikannya.

Apa kata mereka

0 komentar

Kalo kata ayah. Pria itu yang tau agama. Yang tau kapan jadwalnya sholat diwaktu yang tepat. Dan tau kapan harus melangkah ke mesjid. Pria itu yang bisa ngaji. Yang bisa nuntun istrinya nanti buat rajin mengaji. Yang surat - surat pendeknya bukan hanya an - nas atau al - ikhlas aja. Pria itu yang bisa jadi imam buat istrinya terlebih buat keluarganya nanti. Yang selalu ngajak untuk sholat berjama'ah. Pria itu yang punya semangat juang tinggi, bukan yang cepat mengeluh ketika dia mendapatkan ujian. Yang punya dedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Yang selalu berfikir jauh kedepan untuk masa depannya. Pria itu yang mampu menghidupi dirinya, istrinya dan keluargannya nanti. Yang tidak pernah stuck di tempat dan selalu ingin berkembang. Pria itu yang bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan dan mencoba untuk memperbaikinya. Yang berani menuntun ke jalan kebenaran. Pria itu yang ketika marahnya tidak murahan. Yang mencoba menyelesaikannya dengan cara yang elegant. Pria itu yang harus pandai bergaul dengan siapa saja. Yang nyambung diajak ngobrol topic apa aja. Pria itu yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Yang multitalent. Yang mampu benerin ketika genteng bocor, listrik mati atau kran kamar mandi patah. Pria itu yang tidak pernah ngajak ketemuan diluar, tapi minta alamat rumahnya untuk menjemputnya dan izin kepada bapaknya untuk membawa anak perempuannya pergi sebentar dan akan menjamin keselamatannya. Pria itu yang bukan memulangkan wanita dengan seenaknya di jam - jam yang tidak lazim dan mengajak main di jam - jam yang tidak lazim pula. Pria itu yang tau waktu, kapan dia harus datang dan kapan dia harus izin pulang. Pria itu yang tutur katanya sopan. Yang memperlakukan wanita tidak semena - mena. Pria itu yang ngajak si perempuan untuk datang kerumahnya dan dikenalkan ke orang tuanya. Pria itu yang tidak banyak ngomong tapi banyak berbuat. Pria itu yang bisa jadi pelindung si wanita didalam keadaan apapun. Pria itu tidak harus tampan tapi yang punya masa depan. Itu kata ayah.

Kalo kata ibu. Apa kata ayah itu sudah yang terbaik

DWI NUR INDAH SARI

0 komentar

Emang bener kata arief poconggg.
Beberapa hari yang lalu, gue iseng - iseng baca blog. Yah seperti biasa, blog yang gue tuju paling blognya poconggg, alitt, bena atau indra wijaya. Sejauh ini blog mereka masih menarik perhatian gue. Karna di dalem blog mereka itu. Gak perlu diterusinlah yah!

Arief poconggg bercerita tentang beberapa lagu yang jadi kenangan. Memang iya lagu itu bisa jadi kenangan. Ketika lo denger lagu tersebut, gak jarang otak lo memutar rekaman moment yang terjadi saat dulu lo pernah denger lagu yang lagi lo denger itu. Misal, saat lo denger lagu kenangan terindahnya samsons, lo jadi keinget mantan. Karna saat sekolah dulu mantan lo pernah bawain lagu tersebut pas pensi sambil mengakatan 'lagu ini gue persembahin buat wanita cantik yang duduk dipojokan sana' sambil nunjuk lo yang lagi asik ngupil dipojokan. Atau lagu di obok - oboknya joshua, tiba - tiba lo keinget kamar mandi rumah. Karna waktu lo kecil pas lo lagi boker, tai yang ngambang - ngambang di toilet sempet lo udek - udek pake jari telunjuk lo sambil nyanyiin lagu diobok - obok dengan riangnya. Ternyata lagu itu bisa bikin sesat juga.

Sama seperti yang lagi gue rasa sekarang. Barusan aja playlist lagu di handphone gue muter lagu Kisah Klasik milik sheila on 7. Lagi - lagi lagu itu lagi. Lagu itu mampu buat gue berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang gue lakuin. Waktu itu sih gue lagi asik bbman. Sentak gue langsung pejemin mata mendalami lirik lagu sambil ikutan nyanyi dan gue kepelin tangan sambil gue tempelin didada. Biar apa? Biar kerasa itu lagu dalem banget.

"Sampai jumpa kawanku~ smoga kita selalu~ menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan~"

Yah. Kenapa lagu itu menurut gue dalem banget? Bakal gue ceritain disini. Dan orang yang mau gue ceritain ini bakal gue paksa buat baca postingan ini.

Malem itu terasa seperti malam - malam biasanya. Gue berangkat kerja dines malem. Dan sampe klinik, gue masih disibukan dengan segudang kerjaan yang bagi gue gak ada beres - beresnya. Bukan untuk melupakan teman, tapi rasain sendiri deh. Ketika lo sudah disibukan dengan suatu pekerjaan. Gak akan ada pikiran lain yang mampu ngalihin lo dari kerjaan itu. Diotak lo kerjaan. Kerjaan dan kerjaan. Apalagi kalo ternyata harus deadline. Its a big problem. And Like a silent killer. Tapi beda sih sama orang yang memang bukan fokusnya di kerjaan. Otaknya masih bisa diambil alih sama yang lain. Kalo gue sih, selama gue kerja. Gue harus bersikap seprofesional mungkin. Tapi ketika lagi gak kerja, santai aja sesantai mungkin.

Tapi untuk waktu - waktu kemaren, otak gue masih disibukan dengan kerjaan. Maklum lagi beradaptasi dengan dunia kerja yang baru. Makanya itu, gue ngerasa sedikit melupakan temen - temen gue. Cuman sedikit loh!

Tiba - tiba aja gue dapet kabar dari salah satu temen gue kalo ternyata temen gue yang lagi gue ceritain ini sebut saja namanya Indah, dia akan pergi untuk selama - lamanya. Astagfirullah. Bukan. Bukan. Indah pergi untuk sementara. Entahlah sementara atau bukan. Indah bakal pindah ke Surabaya untuk menengok nenek disana mengendarai kereta malam... jugijagijugijagijug..... salah fokus.

Indah pindah ke Surabaya bukan buat nengok neneknya tapi buat nyari kerja. Makanya gue bilang entahlah sementara atau bukan. Karna gue sendiri gak bisa mikir, kapan lagi ada kesempatan buat ketemu dia. Kalo kenyataannya nantinya kita sudah sama - sama disibukkan dengan kerjaan ditambah lagi dia yang begitu jauh. Malem itu gue mau ngebuktiin sendiri kalo indah bener - bener udah fix banget bakal pindah ke Surabaya. Semaleman gue tungguin balesan sms dari dia, nyatanya dia gak bales - bales. Ah emang dari dulu temen gue yang satu ini selalu bermasalah sama signal di hp yang katanya smartphone itu.

Ketika sudah subuh dan gue terbangun dari kesetengahsadaran gue semalem antara tidur atau enggak. Malem itu ada pasien inpartu. Bagi yang gak tau apa itu inpartu. Inpartu adalah sedang dalan proses persalinan, observasi sampe pembukaan lengkap baru bisa dipimpin buat lahirin bayinya. Karna semaleman belum juga ada pembukaan lengkap dan mata gue udah gak karuan. Alhasil gue tertidur dimeja observasi ruang bersalin.

Hp gue bergetar beberapa kali. Ternyata indah baru bales sms gue semalem. Dia ngasih kabar yang gak enak banget. Kalo pagi itu dia bakal berangkat ke Surabaya. Sumpah demi apa, niat gue sepulang dines nanti gue bakal nyamperin dia kerumahnya untuk pertemuan terakhir. Tapi..... tapi nasi sudah menjadi bubur. Indah berangkat jam 7 dan gue baru bisa operan dines jam 9. Udah gak ada waktu lagi buat bisa ketemu.

Pertemuan terakhir gue adalah ketika pagi - pagi gue dateng kerumahnya buat pinjem baju seragam. Gila. Pertemuan terakhir aja gue ngeselin banget. Maka dari itu, gue mau minta maaf kalo udah nyusahin dia mulu. Tapi Allah berkata lain.

Gue cuma mau bilang "thank you banget udah jadi bagian dari hidup gue ndah, udah mau jadi pendengar setia dari setiap cerita gue. Mungkin Allah punya rencana lain. Walaupun kita udah berusaha buat nyari kerjaan bareng, naro lamaran kemana - mana bareng. Tapi nyatanya nasib kita sudah pada nasibnya masing - masing. Gak bakal gue lupain waktu naro lamaran ke Tangerang bareng echa. Kita motoran sampe belek warnanya item karna debu. Baso favorit kita di masjid agung serang bakal terus jadi baso favorit gue ndah. Walaupun makannya bukan sama lo. Thank you banget sudah jadi tempat yang nyaman buat gue manja - manjaan sama lo. Karna cuma lo doang yang sosoknya sangat keibuan yang sanggup ngadepin keanehan dari sifat gue walaupun gue tau sebenernya lo udah enek sama tingkah absurd gue. Sering minta garukin gelilah. Sering maenin rambut oranglah. Sering gelendotan dibadan elo lah. Sering minta dicebokinlah. Walaupun yang terakhir lo selalu gak mau. Anehnya lagi lo sering masuk - masukin jari keketek gue ndah, maksa - maksa telunjuk gue buat masuk ke lubang idung lo atau jari - jari gue lo ukir pake pulpen berasa kaya penganten. Anehnya gue mau aja lagi! Bego. Gue bakal kangen banget sama lo. Kangen banget. Asal lo tau, pas denger kabar pagi itu juga lo mau brangkat ke Surabaya, diklinik gue nangis. Sesenggukan. Untungnya masih subuh dan orang masih belum pada bangun. Dan gue lagi sedih gitu, lo masih bisa - bisanya bales sms gue sambil becanda bilang kita LDRan ajalah. Gue disuruh bikin surprise tiba - tiba dateng kesonolah. Lo bilang Surabaya gak jauh kok cuma sejengkal doang. Dari peta. Ee banget sih lo ndah!! Niat kita kan nyari kerja barengan ke Malang ndah. Kenapa lo brangkat sendirian? Gue kan masih mau maen sana elo ndah, sama yang lainnya juga. Kita kumpul lagi. Lengkap. Si uwi ngeledekin gue aja ndah, katanya gue udah keilangan induknya. Dan dia senang. Katanya gak ada lagi yang bisa bikin dia iri. Ndah, aku tanpamu butiran debu ndah! Yaudahlah yah, mau ngerengek kaya apa juga lo gak mungkin bakal tiba - tiba ada di depan mata gue, yang bisa gue peluk langsung. Semoga aja kita masih bisa dikasih kesempatan buat ketemu. Tunggu gue dateng kesana yah!! Kita maen ke Malang, kita taklukin puncak bromo sama semeru ndah. Sesuai cita - cita awal. Sekali lagi thank you dwi nur indah sari yang selalu jadi number one dikampus dan tidak bisa gue kalahkan sampe semester akhir"

Sebenernya kata - kata barusan mau banget gue omongin langsung.

Halo Indah, sudah betahkah? Sudah mulai melupakan gue yah?

:*